CHALENGE 9 : BOPOROMO SUBASUKI - Riddle Story Indonesia
News Update
Loading...

Sabtu, 29 Juni 2019

CHALENGE 9 : BOPOROMO SUBASUKI

CHALENGE 9 : BOPOROMO SUBASUKI


*CHALENGE 9 : BOPOROMO SUBASUKI

Sebenarnya tujuan saya pergi ke Kampung Ilmu adalah mencari buku-buku kiri untuk referensi cerpen “Sedjarah Merah” yang akan saya ikutkan di Antologi cerpen Detective.ID tapi karena tak menemukan buku kiri yang bagus saya akhirnya membeli buku karya Robert Fulghum yang berjudul" All I Really to know i learned in kindergarten dan buku karya Masaru Emoto yang berjudul “The Miracle Of Water”. Saya memang seringkali tak fokus mencari apa yang seharusnya saya cari, dan saya agak menyesal karena terbujuk hawa nafsu dengan membeli buku itu.

Saya duduk sejenak sambil menyedot es tebu di tepi jalan dan mencoba membuang jauh-jauh rasa menyesal karena salah beli. Saat bersantai saya memperhatikan pohon Bintaro yang tertanam sepanjang trotoar, saya berfikir betapa kejinya pemerintah kolonial belanda yang menanami sepanjang jalan semarang dengan pohon yang buahnya beracun, bagaimana jika ada anak yang tak tahu apa-apa tentang buah bintaro dan memakan buah yang jatuh dari pohon itu? Bukankah itu sangat berbahaya? Harusnya pemerintah mengganti Pohon Bintaro dengan tanaman yang buahnya bisa bermanfaat dan tidak berbahaya.

Setelah duduk dan minum es tebu sambil berfikir kritis, saya lanjut mencari buku di salah satu kios, disana ada buku-buku tua yang bahkan lebih tua dari buku-buku terbitan balai pustaka. Mata saya langsung jatuh cinta pada sebuah buku tua tanpa sampul, jadi buku itu telanjang bulat dan langsung menampakkan halaman judulnya. “Dua Penerus” judul yang sangat membuat penasaran sehingga saya langsung membelinya seharga lima ribu rupiah saja.

Sesampainya di rumah, saya malah membaca buku tua yang penulisnya tak jelas siapa daripada dua buku lain yang jelas karya penulis ternama. Butuh sekitar satu jam saja untuk membaca buku setebal 50halaman itu, ceritanya sangat menarik. 

Begini inti ceritanya :
Ada seorang Pemimpin padepokan bernama Boporomo Subasuki yang mempunyai dua orang anak, yang satu bernama Suro Subasuki dan yang satunya bernama Indro Subasuki. Keduanya sangat pandai dan bisa dibilang mewarisi ilmu dari sang ayah dengan sepadan. Boporomo Subasuki memberikan tugas pada kedua anaknya, masing-masing dua penerusnya itu ditugasi menebang dua pohon keramat di tempat yang berbeda, Indro Subasuki mendapat tugas menebang pohon di puncak bukit, sedangkan Suro Subasuki mendapat tugas menebang pohon di dekat pantai. Sebenarnya bukan pekerjaan sulit untuk menebang pohon, yang menyebabkan hal mudah tersebut jadi sulit adalah warga sekitar yang mengkramatkan pohon-pohon itu. Boporomo juga mengirim seorang telik sandi untuk mengawasi kedua putranya itu.

Telik sandi pertama melaporkan Suro, awalnya Suro mendapat penolakan dari warga karena Warga menyakini bahwa takdir mereka berkebun pisang, bukan sebagai nelayan, mereka menganggap pohon keramat telah membuat kebun mereka jadi subur jadi mereka menolak menebang pohon keramat, Suro tidak menyerah, dia memberi contoh dengan tindakan, dia menjadi nelayan dan mencoba sukses, dia juga membuat bahan makanan unik dan enak dari udang meski baunya agak menyengat, bahan makanan dari udang itu terkenal hingga daerah lain dan membuat Suro kaya, tapi itu tidak membuat masyarakat tertarik mengikuti jejaknya, hingga pada suatu hari pohon-pohon di kebun masyarakat banyak yang mati, juga pohon keramat yang mereka keramatkan, saat itulah Suro mengambil kesempatan untuk membujuk warga meninggalkan penyembahan pohon keramat. Boporomo penasaran bagaimana perkebunan warga dan pohon keramat bisa mati? Teliksandi itu menjawab karena kalah dengan bahan makanan buatan Suro.

Telik sandi kedua melaporkan Indro, sejak awal kedatangannya warga menyambut baik dan menerima ajakan Indro namun mereka takut ketika diajak menebang pohon keramat, karena menurut legenda barang siapa hendak menebang pohon keramat atau menggoresnya sedikit saja maka bencana akan datang, setelah beberapa lama merenung Indro menemukan sebuah cara, dia mengajak beberapa pemuda desa untuk memanjat pohon keramat dan mereka seperti bencengkramah diatas pohon, sang telik sandi tak tahu apayang mereka bicarakan diatas pohon karena dia mengawasi dari jauh, setelah setiap hari selama dua bulan mereka melakukan itu pohon keramat perlahan mengering, daunnya berguguran dan mati, Wargapun dengan mudah menumbangkan pohon keramat itu.

Boporomo tersenyum dan dengan mantap memilih Indro sebagai penerus.
(Coba Jelaskan bagaimana cara Suro dan Indro kok bisa membuat pohon keramat tumbang? Dan mengapa Boporomo memilih Indro? tulis jawaban kalian di kolom komentar dan jika sudah cocokan dengan jawaban Asli)


Pohon pisang warga beserta pohon keramat yang mereka puja tumbang karena air tanah disana tercemar oleh limbah hasil bisnis yang digeluti suro. Sedangkan Indro menumbangkan pohon keramat dengan cara mencaci maki pohon secara terus menerus, cara yang dilakukan Indro ini adalah metode nyata di kepulauan solomo dan pernah ada pembahasannya di buku karya Robert Fulghum yang berjudul" All I Really to know i learned in kindergarten”. Penjelasan ilmiahnya sendiri ada pada penelitian Masaru Emoto tentang The Miracle Of Water. Karena di dalam batang pohon ada air yang menjadi sumber kehidupan pohon, jika kualitas air itu buruk atau rusak karena cacian maka tumbanglah pohon tersebut. Boporomo tidak memilih Suro karena metodenya mencemari lingkungan, sedangkan Indro dipilih karena selain hanya menebang pohon keramat, dia juga mengajarkan bahayanya perkataan buruk.

Comments


EmoticonEmoticon

PENGUMUMAN
Setiap sabtu dan minggu, reward pulsa untuk pengirim postingan #SangPujangga terbaik
Done