*CHALENGE 9 : BOPOROMO SUBASUKI
Sebenarnya tujuan saya pergi ke Kampung Ilmu adalah mencari
buku-buku kiri untuk referensi cerpen “Sedjarah Merah” yang akan saya ikutkan
di Antologi cerpen Detective.ID tapi karena tak menemukan buku kiri yang bagus
saya akhirnya membeli buku karya Robert Fulghum yang berjudul" All I
Really to know i learned in kindergarten dan buku karya Masaru Emoto yang
berjudul “The Miracle Of Water”. Saya memang seringkali tak fokus mencari apa yang
seharusnya saya cari, dan saya agak menyesal karena terbujuk hawa nafsu dengan
membeli buku itu.
Saya duduk sejenak sambil menyedot es tebu di tepi jalan dan
mencoba membuang jauh-jauh rasa menyesal karena salah beli. Saat bersantai saya
memperhatikan pohon Bintaro yang tertanam sepanjang trotoar, saya berfikir
betapa kejinya pemerintah kolonial belanda yang menanami sepanjang jalan
semarang dengan pohon yang buahnya beracun, bagaimana jika ada anak yang tak
tahu apa-apa tentang buah bintaro dan memakan buah yang jatuh dari pohon itu?
Bukankah itu sangat berbahaya? Harusnya pemerintah mengganti Pohon Bintaro
dengan tanaman yang buahnya bisa bermanfaat dan tidak berbahaya.
Setelah duduk dan minum es tebu sambil berfikir kritis, saya
lanjut mencari buku di salah satu kios, disana ada buku-buku tua yang bahkan
lebih tua dari buku-buku terbitan balai pustaka. Mata saya langsung jatuh cinta
pada sebuah buku tua tanpa sampul, jadi buku itu telanjang bulat dan langsung
menampakkan halaman judulnya. “Dua Penerus” judul yang sangat membuat penasaran
sehingga saya langsung membelinya seharga lima ribu rupiah saja.
Sesampainya di rumah, saya malah membaca buku tua yang
penulisnya tak jelas siapa daripada dua buku lain yang jelas karya penulis
ternama. Butuh sekitar satu jam saja untuk membaca buku setebal 50halaman itu,
ceritanya sangat menarik.
Begini inti ceritanya :
Ada seorang Pemimpin padepokan bernama Boporomo Subasuki yang
mempunyai dua orang anak, yang satu bernama Suro Subasuki dan yang satunya
bernama Indro Subasuki. Keduanya sangat pandai dan bisa dibilang mewarisi ilmu
dari sang ayah dengan sepadan. Boporomo Subasuki memberikan tugas pada kedua
anaknya, masing-masing dua penerusnya itu ditugasi menebang dua pohon keramat
di tempat yang berbeda, Indro Subasuki mendapat tugas menebang pohon di puncak
bukit, sedangkan Suro Subasuki mendapat tugas menebang pohon di dekat pantai.
Sebenarnya bukan pekerjaan sulit untuk menebang pohon, yang menyebabkan hal
mudah tersebut jadi sulit adalah warga sekitar yang mengkramatkan pohon-pohon
itu. Boporomo juga mengirim seorang telik sandi untuk mengawasi kedua putranya
itu.
Telik sandi pertama melaporkan Suro, awalnya Suro mendapat
penolakan dari warga karena Warga menyakini bahwa takdir mereka berkebun
pisang, bukan sebagai nelayan, mereka menganggap pohon keramat telah membuat
kebun mereka jadi subur jadi mereka menolak menebang pohon keramat, Suro tidak
menyerah, dia memberi contoh dengan tindakan, dia menjadi nelayan dan mencoba
sukses, dia juga membuat bahan makanan unik dan enak dari udang meski baunya
agak menyengat, bahan makanan dari udang itu terkenal hingga daerah lain dan
membuat Suro kaya, tapi itu tidak membuat masyarakat tertarik mengikuti
jejaknya, hingga pada suatu hari pohon-pohon di kebun masyarakat banyak yang mati,
juga pohon keramat yang mereka keramatkan, saat itulah Suro mengambil
kesempatan untuk membujuk warga meninggalkan penyembahan pohon keramat.
Boporomo penasaran bagaimana perkebunan warga dan pohon keramat bisa mati?
Teliksandi itu menjawab karena kalah dengan bahan makanan buatan Suro.
Telik sandi kedua melaporkan Indro, sejak awal kedatangannya
warga menyambut baik dan menerima ajakan Indro namun mereka takut ketika diajak
menebang pohon keramat, karena menurut legenda barang siapa hendak menebang
pohon keramat atau menggoresnya sedikit saja maka bencana akan datang, setelah
beberapa lama merenung Indro menemukan sebuah cara, dia mengajak beberapa
pemuda desa untuk memanjat pohon keramat dan mereka seperti bencengkramah
diatas pohon, sang telik sandi tak tahu apayang mereka bicarakan diatas pohon
karena dia mengawasi dari jauh, setelah setiap hari selama dua bulan mereka
melakukan itu pohon keramat perlahan mengering, daunnya berguguran dan mati,
Wargapun dengan mudah menumbangkan pohon keramat itu.
Boporomo tersenyum dan dengan mantap memilih Indro sebagai
penerus.
(Coba Jelaskan bagaimana cara Suro dan Indro kok bisa membuat
pohon keramat tumbang? Dan mengapa Boporomo memilih Indro? tulis jawaban kalian di kolom komentar dan jika sudah cocokan dengan jawaban Asli)
Pohon pisang warga beserta pohon keramat yang mereka
puja tumbang karena air tanah disana tercemar oleh limbah hasil bisnis yang
digeluti suro. Sedangkan Indro menumbangkan pohon keramat dengan cara mencaci
maki pohon secara terus menerus, cara yang dilakukan Indro ini adalah metode
nyata di kepulauan solomo dan pernah ada pembahasannya di buku karya Robert Fulghum yang berjudul"
All I Really to know i learned in kindergarten”. Penjelasan ilmiahnya sendiri
ada pada penelitian Masaru Emoto tentang The Miracle Of Water. Karena di dalam
batang pohon ada air yang menjadi sumber kehidupan pohon, jika kualitas air itu
buruk atau rusak karena cacian maka tumbanglah pohon tersebut. Boporomo tidak
memilih Suro karena metodenya mencemari lingkungan, sedangkan Indro dipilih
karena selain hanya menebang pohon keramat, dia juga mengajarkan bahayanya
perkataan buruk.
