JUDUL : TUMBAL TOMBAK
BROJOMUSTI
“Di dunia ini mungkin anda
sudah tahu pusaka legendaris yang terbuat dari batu meteor, seperti Pedang Tentetsutou, Belati
Bertuah milik Firaun Tutankhamun, Belati Raja Jahangir, Pedang James Sowerby,
dan dari nusantara ada Keris Sakti Kanjeng Kyai Pamor yang ditempa Empu Brojoguna
dari kerikil meteor yang jatuh di Prambanan pada masa pemerintahan Pakubuwono.
Tapi mungkin anda belum tahu bahwa bukan hanya Empu Brojoguna yang memusakakan
batu langit itu. Separuh Kerikil Meteor yang menghujam tanah jawa itu direnggut
diam-diam oleh Empu Brojomusti, Sang Empu yang tersingkir dari Keraton karena
telah membunuh salah satu abdi dalem. Dengan segenap dendam kesumatnya Empu
Brojomusti menempa pusaka maut berupa mata tombak haus darah yang dirasuki Yoni
Nogo Bumi yang bisa menyerang siapapun, dimanapun, kapanpun sekehendak sang
Empu. Pada malam satu suro sang empu menjajal mata tombak maut yang mampu
dengan mudah menyerang dan merenggut nyawa para pengawal keraton. Sepak terjang
tombak kematian itu akhirnya dapat dihentikan oleh Keris Sakti Kanjeng Kyai
Pamor yang sama-sama terbuat dari batu langit.Empu Brojomusti akhirnya
ditangkap dan diasingkan dan dipasung di sebuah gubuk di tengah hutan, konon
mata tombak itu ditancapkan pada kayu pasungan dan tiap kali mata tombak itu
haus darah, tombak itu melayang dan menancapkan ujungnya ke tubuh Empu
Brojomusti, begitu terus berulang hingga sang Empu Mati. Ki Sentot, dialah yang
babat alas daerah ini dan menemukan gubuk tua yang di dalamnya ada kerangka
manusia terpasung, dan di ubun-ubun kerangka manusia itu tertancap sebuah mata
tombak usang, sejak saat itulah desa ini dinamakan Desa Pasungan, dan tombak
itu disimpan di kamar pusaka di atas bukit surowiti.” Saya dan Iptu Mulyono
terdiam sejenak dan saling pandang menunggu siapa yang akan bertanya duluan
pada kang Slamet, cucu Ki Sentot.
“Lalu mengapa Ki Sentot bersemedi di dalam kamarnya? Bukan di ruang
pusaka itu? Bukankah biasanya seorang kuncen jika bersemedi di ruang pusaka?”
tanya Iptu Mulyono.
“Karena Takut, beberapa tahun belakangan ini semenjak kedatangan Ustadz
Kholiq, warga desa telah banyak yang meninggalkan Tradisi, hanya tinggal
beberapa orang seperti Pak Minarto yang jualan Sosis mentah di ujung desa, Mbah
Tun yang angon wedus di pekarangan pak Darto, dan beberapa orang lagi termasuk
saya, pokoknya tidak sampek selusin, Ki Sentot beberapa bulan ini bermimpi
kalau Tombak Brojomusti Marah dan minta tumbal karena warga desa sudah tak
menghormatinya, tapi apa daya kami yang kini jadi minoritas.”
“Baiklah, kami akan hubungi anda jika ada temuan.” Saya dan Iptu Mulyono
berpamitan meninggalkan desa pasungan yang beberapa hari yang lalu geger karena
Ki Sentot seorang kuncen pusaka tewas dalam kamarnya dengan luka seperti
tusukan benda tajam pada mulutnya hingga hampir tembus ke belakang leher.
Anehnya tidak ditemukan satupun senjata tajam di ruangan itu, bahkan pintu
satu-satunya akses masuk ke ruangan itu diblokade oleh palang kayu yang dipaku
dari dalam, sisanya mulai dinding hingga atap semua dari beton cor-coran,
hampir mustahil pembunuh kabur kecuali bisa menembus dinding, petunjuk yang ada
sangat minim, diantaranya seperti ada bekas bekam di punggung korban, menurut
pengakuan kang slamnet, memang tiga hari sebelum korban ditemukan meninggal
korban mengundang ustadz kholiq, meski bersebrangan keyakinan, Ki Sentot
mengakui pengobatan ala arab terbukti manjur, setelah bertemu dengan Ustadz
kholiq Ki Sentot berpamitan ingin bersemedi untuk meredam amarah Tombak
Brojomusti, karena dua hari tak keluar kamar, sang cucu khawatir dan mengecek
beliau di kamarnya, namun kamar tersebut terkunci cucunya yang bernama Slamet
makin curiga setelah mencium bau tak sedap dari kamar itu hingga akhirnya minta
bantuan tetangga untuk mendobrak pintu kamar dan saat itulah Ki Sentot
ditemukan sudah tak bernyawa dalam kondisi yang mengenaskan. Yang membuat geger
adalah setelah kematian Ki Sentot, Warga Ketakutan dan meminta Ustadz Kholiq
untuk melindungi mereka dari amukan pusaka Tombak Brojomusti, dengan segenap
keberanian dan tawakal, Ustadz Kholiq pergi ke ruang pusaka, namun kunci
ruangan pusaka itu tidak ada karena disita polisi sebagai barang bukti karena
kunci tersebut berada di kantong celana Ki Sentot. Kunci duplikat juga sukar
dibuat karena kunci ruang pusaka itu unik, bikinan belanda dan sulit di
duplikasi. Akhirnya Ustadz Kholiq mendobrak ruangan itu dan menemukan mata
tombak itu telah menancap tegak di lantai. Tombak itu berlumuran darah, melihat
kondisi itu Ustadz Kholiq melarang warga mendekat, beliau memanggil polisi
untuk memeriksa pusaka itu, dan hasil mencengangkan yang di dapat. Darah yang berlumuran
pada pusaka itu adalah darah Ki Sentot. Seisi Desa makin ketakutan. Aku yang
meliput kasus itu langsung merekomendasikan pada kapolsek setempat untuk
menghubungi IPTU Mulyono yang sudah aku saksikan sendiri Kehandalannya dalam
menangani kasus kasus misterius.
IPTU Mulyono meminta IPTU Bambang selaku Kapolsek Pasungan untuk
memanggil Ustadz Kholiq Basalamah, dan menurut feelingku pasti IPTU Mulyono
telah memecahkan misteri kasus ini.
(Pecahkan Kasus Ini di kolom komentar tanpa melihat jawaban Asli, jika sudah silahkan cek jawaban Anda dengan jawaban Asli)
Dengan kondisi TKP yang tertutup beton dan
satu-satunya pintu akses terpaku dari dalam, maka kesimpulan logisnya adalah Ki
Sentot bunuh diri. Bagaimana caranya? Dengan cara memakai mata tombak dari es
yang dibuat dengan cara mencampur serat kapas dengan air lalu membekukan
campuran itu, selanjutnya es tersebut diasah sampai tajam, karena ada campuran
serat kapas, es menjadi kuat dan sanggup menancap ke mulut ki sentot layaknya
mata tombak sungguhan, Ki sentot membuat tombak es tersebut dengan bantuan
pengikutnya yang berjualan sosis mentah, penjual sosis mentah termasuk kategori
pedagang frozen food yang butuh lemari pendingin untuk menympan frozen food,
setelah dibekam, ki sentot mengambil darahnya dan menyimpannya lalu
melumurkannya pada mata tombak, setelah melumurkan dan menancapkannya di
lantai, dia mengurung diri dan memaku kamar dari dalam, lalu bunuh diri dengan
tombak es yang dia tancapkan ke mulutnya, setelah dua hari es mencair dan hanya
menyisakan kapas pada mulut ki sentot. Motif dia melakukan hal tersebut adalah
agar warga kembali mensakralkan tombak brojomusti yang mulai ditinggalkan.
