Riddle Story Indonesia: INTIFADA
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label INTIFADA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INTIFADA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Agustus 2019

Case Story - Misteri Laut Pantai Selatan (Tim WANYAD)



Judul : Misteri Laut Pantai Selatan
Maker : Abdoel (Tim WANYAD)

Minggu, 01 september 2019 pukul 09.00 wib
~kau lihat aku disini menunggumu
~menanti, akan kehadiran dirimu
~berkali kali kumenghubungi kamu
~berharap, kau dan aku cepat bertemu
~jujur aku tak sanggup bila kau jauh
~terasa berat, dan hampir ingin mengeluh
~rasa ini sunggu membuatku jatuh cinta padamu

"Dia jadi begini sejak kejadian itu" kata seorang wanita yang seumuran dengan ibuku
"Hanya lagu ini yang akan membuatnya tenang, jika berhenti maka dia akan berteriak histeris" lanjutnya.

"Aku turut prihatin bu" balasku.
"Padahal kejadian itu seharusnya menjadi moment spesial untuknya, tapi ternyata takdir berkata lain" lanjutku.

"Moment spesial apa yang kamu maksud" tanya dia kepadaku
"Biar aku ceritakan dari awal yah bu" balasku.

.....
Sabtu, 24 Agustus 2019 pukul 10.00 wib
Handphone ku berdering pertanda panggilan masuk dari seseorang yang ternyata adalah temanku yang bernama joko purnama
"Hallo doel" sapa joko.

"Iya, ada apa nelpon aku" jawabku
"Kamu lagi dimana?, ada yang mau aku omongin" balas joko
"Dirumah, yah sudah kesini ajah, masih inget rumahku kan?" Balasku kembali
"Masih lah, oke aku otw sekarang yah" balas joko lalu menutup telpon
20 menit kemudian joko sudah sampai dirumahku, ternyata dia ingin membuat sesuatu rencana yang bisa dibilang nyeleneh, memang bagus namun resikonya besar
"Tunggu sebentar, aku mau konfirmasi teman ku dulu untuk peralatannya" kata joko
"Temanmu siapa ko?" Tanyaku

"Itu si mamat" balas joko
"Nanti aku perkenalkan ke kamu" lanjutnya
"Hai mat, bagaimana persiapannya sudah siapkah?" Kata joko sambil berbicara dengan mamat lewat handphonenya
"Owh baguslah, kamu pasti bisa diandalkan, iya2 untuk pantainya lagi dibahas sama abdoel nih" lanjut joko

https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v9/tee/1/16/1f611.png?_nc_eui2=AeEmv1P45_aOtXtAbqBXzfbr9FoLuPYliRfxefVSLDobZCL4BxVYswhGmMeZOiBzt0BCwcWFHmL76aSgvTh3uwEkDYOjhNet3r4JVEkYx8QDPtx94StvJzGrMDVCkgUd7Xg"Kamu kesini aja deh, biar sekalian ngobrol sama abdoel, nanti aku kirimin lokasinya" lanjut joko lagi
"Oke ditunggu" kata joko lalu menutup telponnya
"Nanti dia mau kesini doel katanya, sekarang dia lagi diapotek beli obat untuk ibunya" kata joko kepadaku
"Jadi bagaimana kelanjutannya ko?" Tanyaku
"Menurutmu pantai mana yang cocok yang sesuai dengan rencanaku?" Balas joko
"Ini gimana sih, kamu yang punya rencana kok malah nanya sama aku"celetukku
"Rencanamu kan berlibur kepantai, lalu terseret ombak, lalu pura-pura tenggelam, lalu dibawa kepinggir pantai, lalu akhirnya kamu bangun dan memberikan cincin kepada pacarmu dan melamarnya, begitukan?" Tanyaku sambil menjelaskan
"Nah iyah begitu, tapi kira-kira pantai mana yang bagus dan pas" tanya joko sambil meminta saran

"Bagaimana kalau pantai dilaut selatan, lalu kamu pakai baju ijo, pasti lebih dramatis" balasku
"Nah ide bagus itu, tapi pantainya yang mana, secara pantai laut selatan itu luas" balas joko kembali
"Entah, aku belum pernah pergi kepantai soalnya hehehe" balasku
Setelah aku berdiskusi panjang lebar kali tinggi sama dengan hasil terdengar suara ketukan pintu dari depan rumahku setelah kubuka ternyata itu adalah mamat santoso teman joko yang tadi ditelponnya, maka aku pun mempersilahkannya masuk
"Jadi, pantai mana yang akan jadi target" tanya mamat
"Belum tahu nih mat, tapi idenya abdoel dipantai laut selatan lalu pakai baju ijo" balas joko kemamat

"Lah, kaya orang-orang kemarin waktu nyerbu pantai dong, hehehe, hhhmmm, Bagaimana kalau di pantai karang hawu, aku sudah pernah kesana, tempatnya lumayan bagus dan cocok lah, apa lagi juga terdapat mitos orang yang pakai baju ijo akan diseret oleh nyi roro kidul" jelas mamat

"Nah ide bagus itu" balas joko
"Eh, tunggu-tunggu aku ikut kesana juga?, secara keuanganku lagi menipis ini, belum ada pemasukan hehehe" sela ku kepada mereka berdua
"Sudah tenang ajah, masalah tiket, penginapan, maupun kendaraan aku yang tanggung" kata joko

"Wew mantav djiwa, semoga rencana kamu sukses besar" kataku kepada joko
"Kamu mah segala apa aja kecil" celetuk mamat
"Besok kalian kerumahku yah, nanti aku kenalin siapa aja yang ikut nanti" kata joko
Dan mereka pun pamit pulang

.....
Minggu, 25 Agustus 2019 pukul 09.00 wib
Aku pun datang kerumah joko yang berlantai dua dan terlihat sangat megah dihalaman rumahnya terdapat banyak macam-macam tanaman hias serta rerumputan yang enak dipandang, diteras rumahnya ku bertemu dengan seorang wanita yang cantik sedang duduk dibangku sambil memainkan handphonenya, ketika dia menoleh kepadaku dia hanya tersenyum yang semakin membuatnya menjadi sangat cantik karena grogi maka aku langsung menuju kedalam rumah joko

Didalam rumah sudah ada mamat dan harun, harun setyabudi merupakan temanku juga, aku harun dan joko memang sering bersama, disamping harun sudah ada pacarnya yang bernama reni triandai, mereka pacaran selama hampir 4 tahun namun kenapa tidak menikah juga apa tidak bosan, kasian

"Itu diteras rumahmu siapa ko?" Tanya heran
"Dia desi damayanti, temannya mirna, dia lagi nunggu mirna datang" jawab joko
"Kenapa dia gak langsung masuk?" Balasku
"Gak tahu juga, katanya sih mau nunggu mirna aja" balas joko
"Biar aku yang temani aja yah, kasian sendirian didepan" kataku lalu menuju kedepan
"Ehem2, semoga lancar doel" celetuk harun
"Apa sih" balasku

Diteras aku pun berkenalan dengan desi lalu duduk bersama, meski sempat gemetar serta grogi namun aku terus berbincang bincang dengannya, ada satu hal yang aku ingat sewaktu berbincang dengannya, jadi, desi sebenarnya tidak mau ikut pergi karena dia takut akan membuat dirinya terus bersedih namun karena joko memaksanya ikut jadi dia terpaksa ikut

"Tapi kayanya aku bakal seneng deh karena ...." kata desi lalu menghentikan katanya sambil kepalanya menunduk dan itu membuat aku terheran
Tidak lama kemudian datang jessica mirna biasa dipanggil mirna dia adalah pacarnya joko bersama dengan hana nissa dia adalah temannya mirna, itu aku ketahui setelah aku diperkenalkan oleh mirna

Karena semua sudah berkumpul maka joko pun mengajak kita semua untuk masuk kedalam lalu membicarakan perihal liburan nanti tanpa membicarakan rencana karena ada mirna, tapi sepertinya harun dan reni sudah mengetahuinya dari sebelum mirna datang

"Jadi tujuan aku mengundang kalian kesini, tidak lain dan tidak bukan yaitu ingin mengajak kalian semua liburan kepantai selama sepekan" kata joko
"Wiihh mantav cooyy" teriak harun

"Dan pantai yang kita tuju nanti adalah pantai karang hawu dekat pelabuhan ratu" lanjut joko
"Iihh, disana kan terkenal akan legenda ratu pantai selatannya" kata hana
"Iyah benar tuh, emang gk da pantai lain apa yank" tanya mirna
"Aku lagi pengen kesana soalnya yank, setelah aku cari-cari digoogle tempatnya lumayan indah dan agak sepi serta damai pas lagi weekday jadi nyaman dah pokoknya yank" jelas joko

"Yah sudah, asal jangan ada yang pakai baju ijo aja, diculik nyi roro kidul baru tahu rasa" balas mirna
"Mat, aku dengar kamu kemarin menang lomba berenang dilaut ancol yah, selamat yah" tanya harun

"Ah iyah, makasih, kamu juga bukannya waktu itu daftar yah, tapi kok aku tidak lihat kamu yah" balas mamat
"Aku ikut kok, dibarisan ujung, tapi gagal juara hehehe, cuman masuk 10 besar" balas harun kembali

"Masa sih, tapi itu juga sudah hebat kok, secara berenang dilaut dengan ombak besar kan lumayan sulit kalau belum terbiasa" balas mamat
"Kalian berdua memang hebat, dari pada aku, berenang dikolam aja takut tenggelam apa lagi dilaut, paling nanti cuman berjemur aja deh" sahutku
"Berarti disini yang tidak bisa berenang cuman abdoel sama kamu bebs hehehe" kata harun

"Tidak apa-apa kok, aku juga cuman bisa sedikit saja" kata joko
Lumayan lama kami semua membicarakan perihal liburan dipantai serta diselingi dengan bicarakan yang lain lalu kami semua pulang kerumah masing-masing, tidak dengan aku yang masih dirumah joko untuk numpang tidur siang dirumahnya sebentar
"Kamu lihat wanita tadi yang namanya hana? Itu mantan aku sebenarnya tapi sudah lama sekali jadi kita berdua sudah biasa-biasa saja, memang dia sempat benci sama mirna waktu tahu aku jadian dengannya tapi mungkin dia sudah mengerti kalau jodoh tidak bisa dipaksa" jelas joko kepadaku lalu kemudian aku tinggal tidur disofa miliknya, setelah tidur siang akupun pamit pulang.

.....
Senin, 26 Agustus 2019 pukul 08.00 wib
H-1 sebelum keberangkatan kami nanti sesudah subuh menuju pantai yang dimaksud, namun perasaanku menjadi khawatir apakah rencana joko akan sukses atau tidak, secara keganasan ombak di laut selatan sangat dashyat bisa-bisa membuatnya tenggelam beneran
Saat ku bangun ternyata ada sebuah pesan masuk ke handphoneku dari nomor tidak dikenal

"Kakak sudah punya pacar belom" bunyi pesan tersebut
"Saat ini belom, tapi ini siapa yah, tahu nomorku dari siapa?" Balasku
Namun tidak kunjung ada balasan, akhirnya aku memilih untuk pergi jalan-jalan ketaman sambil membeli makanan ringan untuk dibawa liburan esok diminimarket terdekat

Dari jauh terlihat mamat sedang duduk dibangku taman sambil memegang sebuah foto tapi tidak terlihat itu foto apa dan siapa, saat aku hampiri dan kusapa, dia langsung memasukkan foto tersebut kedalam jaketnya dan lalu membalas sapaanku
"Sendirian ajah mat?" Tanyaku

"Eh, iya nih, dirumah rada panas jadi kemari deh buat nyari angin segar" jawab mamat
"Mat, menurutmu rencananya joko itu dilakukan kapan?, yah takut terjadi hal yang tidak diinginkan jadi aku bersiap siap jika waktunya tahu" tanyaku kepada mamat
"Kurang tahu juga sih tepatnya kapan, soalnya dia belum memberi tahuku, mungkin sekitar menjelang siang" balasnya
"Oalah oke deh, aku langsung pulang yah mat" balasku lalu meninggalkan mamat
Pukul 19.00 wib
"Doel nanti pertunjukkan dramatisnya sore hari ajah yah, kayanya lebih adem dan tidak terlalu ramai juga doel" sebuah pesan singkat dari joko dan kubalas dengan kata oke.

.....
Selasa, 27 Agustus 2019 pukul 05.15 wib
"Ayo 15 menit lagi kita berangkat, sudah kumpul semua belum" kata joko
"Desi sama reni belum datang" sahut mirna
10 menit kemudian mereka berdua sudah datang, dan kita pun siap untuk berangkat, sebelum berangkat aku mengecek semua keperluan liburan juga peralatan untuk acaranya joko.

"Tas mu berat sekali mat?, dan banyak sekali" Tanyaku kepada mamat
"Sebagian peralatan liburanku, dan sebagiannya lagi peralatan acaranya joko" bisik mamat kepadaku.

Perjalanan yang kami tempuh kurang lebih sekitar 5 jam an, saat sampai lalu kami menuju ke homestay yang sudah joko pesan jauh hari dan juga tempat tersebut merupakan tempat menginap kami nantinya, lalu kami pun menuju kepantainya saat tiba dipantai kumelihat pemandangan yang sungguh luar biasa indah, terdapat tulisan besar bertulisankan karang hawu, para wisatawannya tidak terlalu ramai karena memang bukan weekand maupun hari libur nasional dan jadi membuat pantai ini terlihat begitu luas.

Ternyata pantai ini masih merupakan pantai pelabuhan ratu, pantas saja keindahan alamnya sangat bagus dimana nuansanya bagaikan pantai kuta dibali, aku pun langsung berjemur dipinggir pantai ditemani reni sedangkan yang lainnya langsung menceburkan diri kedalam laut, saat berjemur kulihat ombak biru serta hamparan pasir yang luas juga terdapat tebing karang yang menjorok kelaut. Memang indonesia ini sangat kaya akan alamnya salah satunya pantai karang hawu ini.

Layunan ombak dan hembusan anginnya pantai mampu menenangkan otakku dengan sedikit menghirup udara perlahan agar aliran darahku semakin lancar, energi positif seraya mengaliri tubuhku melalui pemandangan biru laut yang menyihir setiap pasang mata serta membuatku menghilangkan kejenuhan tingkat dewa dan merelaksasi diri dari rutinitas yang membosankan.

Hari sudah semakin sore, situasi menjadi semakin sepi yang membuatku menjadi semakin damai meski yang lain pada tertawa tawa sedangkan aku hanya melamun sambil menatap laut, perut kami pun mulai kembali lapar dan kami pun menghampiri rumah makan yang menjual makanan khas sukabumi.

Tiba waktunya melihat sunset dipantai karang hawu, perlahan lahan matahari mulai bersembunyi dibalik karang serta langi pun mulai berubah warna, desi pun meminta untuk berfoto bersamaku lalu aku pun mengiyakannya begitu juga dengan joko dan mirna lalu harun dan reni mereka ikut mengabadikan moment itu, mamat dan hana hanya menjadi fotografer kami, dan akhirnya matahari tenggelam dibelakang karang besar, malam tiba kami kembali kepenginapan.

Pukul 22.30 wib dipenginapan
Homestay atau penginapan kami terbilang cukup luas dengan banyak kamar jadi para laki-laki kamarnya masing-masing, sedangkan para wanita campur jadi satu kamar, itu dilakukan atas inisiatif mamat supaya kamar-kamarnya tidak kosong, mubajir kalau tidak dipakai.

"Mau kemana kau ko?" Tanyaku ke joko
"Mau latihan dulu, biar tidak kaku" balasnya
"Hah jam segini dilaut? Tidak salah ombaknya lagi besar loh" balasku heran
"Yah dipinggir pinggir aja tidak langsung ketengah" jawabnya kembali
"Terserah kau sajalah, kalau sudah balik kabarin aku" balasku lalu joko pergi
Didalam kamar aku khawatir menunggu kedatangan joko dan mamat sambil mendengarkan lagu melalui headset ditelingaku, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, pukul 01.20 wib terdengar suara pintu terbuka lalu tertutup, sambil menahan ngantuk aku pun menengok keluar ternyata sudah ada mamat sedang menghisap sebatang rokok sambil memainkan handphonenya diruang tamu
"Loh joko mana mat?" Tanyaku ke mamat.

"Itu sudah masuk kekamar, cape ditambah ngantuk katanya makanya langsung tertidur dia mungkin sudah pulas" jawab mamat
"Yah sudah" balasku singkat.

Handphoneku berbunyi pesan singkat masuk yang ternyata dari joko
"Besok pagi kalau aku masih tidur kamu duluan saja kepantainya dul" begitu bunyi pesannya
Dan aku pun beranjak tidur.

.....
Rabu, 28 Agustus 2019 pukul 08.00 wib
Sepertinya aku kesiangan bangunnya setelah cek sekitar ternyata mereka sudah pergi kepantai lebih dulu, maka setelah mandi dan sarapan aku langsung menuju kepantai seorang diri.

Dipantai terlihat mereka sedang bermain seperti hari sebelumnya, hanya saja aku tidak melihat joko disitu.

"Joko mana?" Tanyaku kepada reni yang tidak ikut berenang
"Tidak tahu, masih tidur kali, emang kamu tidak bersamanya?" Jawab reni
"Justru aku kira sudah pergi dengan kalian soalnya kamarnya sudah kosong" balasku
"Mungkin sedang siap-siap untuk rencananya kali, soalnya kami langsung kemari setelah mirna memberitahu bahwa semalam joko mengirim pesan untuk pergi lebih dulu kalau dia belum bangun" jelasnya.

"Yah sama dong, joko juga mengirimiku pesan tersebut" balasku
"Wwiiihh baju baru nih kayanya mat" tanyaku kemamat yang tiba-tiba datang
"Oh iyah, kamu dari mana, dan joko mana?" Tanyaku kembali
"Lagi berenang tuh disebalah sana, sambil latihan dia, benar-benar harus maksimal katanya nanti juga setelah itu dia menghampiri kita" balas mamat
"Sepertinya aku harus siap-siap juga, aku kesana dulu yah biar tidak kelihatan sama mirna kalau aku sedang bersama joko dan berperan membantunya" lanjut mamat kemudian berlalu pergi.

(Pemberitahuan untuk yang pakai ijo harap tolong segera kepinggir, dikarenakan masuk zona bahaya) kata seseorang yang ternyata itu adalah lifeguard pantai tersebut
Pemberitahuan tersebut selalu terdengar hingga membuatku yang sedang bersantai menjadi kaget dan teringat sesuatu yah joko, mungkinkah
Tiba-tiba saja lifeguard berlari menuju laut hendak mengejar seseorang yang berada ditengah laut, memang tidak terlihat jelas sih, namun baju ijo itu membuatku teringat akan rencana joko,
"Jadi sudah dimulai" batinku
Suasana pantai menjadi histeris lantaran seseorang terseret ombak menuju tengah laut yang kemudian langsung hilang, namun hampir 30 menit orang tersebut tak muncul-muncul juga bahkan para lifeguard masih berusaha mencari disekitar tenggelamnya orang tersebut.

Kami semua berkumpul menjadi panik, terutama mirna karena gelisah sedari pagi joko tidak ada kabar, lalu mamat muncul berbaur dengan kami.

"Aku disana dari tadi menunggu joko, tetiba saja orang-orang banyak yang berteriak pas melihatnya aku terkejut, ternyata itu joko, lalu aku menuju kepenginapan ternyata benar joko sudah tidak ada dikamarnya, apa mungkin dia sudah terhipnotis oleh nyi roro kidul lalu berjalan kejalan tanpa sadar" jelas mamat.

Mendengar berita tersebut mirna menjadi makin histeris, dan terus terusan berusaha menghubungi joko namun tidak aktif, aku pun hanya bisa menenangkannya sambil berusaha meyakinkannya bahwa itu pasti bukan joko, dan joko pasti akan kesini
Siang, sore, bahkan sampai malam joko pun tak kunjung muncul kepenginapan, aku pun menjadi ikutan gelisah.

"Mir, coba aku lihat handphonemu, dan pesan terakhir dari joko yang kata reni tadi pagi" pintaku.

Honey, besok pagi kalau aku belum bangun, duluan saja yah, aku cape banget *batinku berkata sambil membaca isi pesan tersebut.

Lalu aku membisikkan sesuatu kemirna, lalu dijawab dengan menggelengkan kepala

.....
Kamis, 29 Agustus 2019 07.00 wib
Paginya kami dikejutan oleh penemuan seseorang sedang berbaring dipinggir pantai, saat kulihat itu adalah joko dengan baju ijo yang dikenakannya namun sedikit rusak, badannya pun sudah membiru, kuperhatikan dengan seksama pergelangan tangan serta kakinya terdapat bekas seperti bekas gesekan namun terlihat pudar, lalu juga seperti ada garis layaknya luka goresan.

Mirna yang melihat tubuh itu yang sebelumnya sudah rada tenang menjadi langsung teriak histeris dan seketika pingsang, kami semua pun juga dibuat terpukul dan menyesal kenapa tidak melihat joko berjalan mengarah kelautan, lalu saat akan tenggelam hanya menontonnya saja dari kejauhan tapi tidak menolongnya
.....
Minggu, 01 september 2019 pukul 12.00 wib
"Sungguh kasian nasibnya dia" kata ibu tersebut
"Memang jodoh tidak bisa diprediksi begitu juga dengan kematian tidak akan ada yang tahu, dan akhirnya dia menjadi merindukannya selamanya" kataku seraya mengakhiri ceritaku.
~~~~~
Regards ,
WANYAD
Abdoel Arc Haidy Mat Saleh P W Lestari


Kirim jawaban Anda di kolom komentar dan cocokan dengan FC Asli nya, Terima Kasih.


Pelaku adalah mamat
Motif tidak terima jika wanita yang dicintainya akan dinikahi oleh korban, dilihat dari ia memandang foto seseorang, dan foto tersebut adalah foto mirna
Kronologi.


Pelaku memanfaatkan mitos tersebut, sebenarnya tanpa perlu kepantai itu pun bisa jika keputusan diserahkan oleh si aku, tapi secara kebetulan pelaku yang memutuskan jadi dia memilih pantai itu yang dimana dia juga sudah pernah kesana jadi paham situasi yang ada.

Saat malam latihan h-1 mungkin pelaku memberikan minuman yang diduga mengandung obat tidur yang dia beli diapotek, memberikan minuman dengan alasan itu minuman vitamin secara latihannya malam hari, jadi korban pasti menurut. Lalu saat korban tertidur, pelaku kemudian mengikat tangan serta kaki korban, lalu diikat ke pemberat yang sudah pelaku siapkan sebelumnya lalu menandainya dengan pelampung, baru korban dibuang kelaut agar terlihat mati tenggelam..

Besoknya pelaku berakting, sebagai orang tenggelam dengan bantuan tabung oksigen serta keahlian berenangnya ia mampu menjauh dari lifeguard yang hendak menolongnya, lalu muncul ke abdoel, dan bilang kalau yang tenggelam itu joko, lalu malam harinya pelaku kembali lagi kelaut kemudian memotong tali yang diikat ditubuh pelaku kemudian membiarkannya hanyut dan ditemukan dipinggir pantai esoknya.


Lalu yang mengirimkan pesan tersebut sebanarnya adalah pelaku, karna dari ketikan nya bukan merupakan ketikan korban yang biasa dilakukan ke pacar serta temannya

Bukti lain, mamat mengetahui yang tenggrlam adalah joko, sedangkan yang lain pun tidak mengetahuinya.



Case Story - FAREWELL PARTY (Panitia)

Case Story - FAREWELL PARTY (Panitia)

~~ FAREWELL PARTY ~~
Maker : Na Gissa Haruka (By Panitia)

***
"Lusa harus datang ya!" Pinta Disha, ia mengulurkan amplop kecil bertuliskan invitation.

Nayla menerima amplop tadi, dan segera membukanya. "Di rumahmu?" Tanya wanita berambut hitam sebahu itu setelah membaca kartu yang berada dalam amplop, ia melempar pandangan pada orang di sebelahnya.

"Ah, sayang sekali. Kami takkan bisa datang kalau acaranya di rumah." Kata Raka penuh sesal.
Disha menanggapi dengan tatapan tanya.

"Jadi, Nay... eh, Mama itu punya asma dan alergi bulu. Dan... tahu kan kalau kucing persia kesayangan kamu itu berbulu?" Raka menjelaskan dengan kocak alasan wanita muda di sebelahnya itu tak bisa datang.

"Astaga, okay aku mengerti." Disha terbahak mendengar penjelasan Raka. "Ups, maaf. Saya bukan menertawakan tentang alergi anda." Kata gadis itu ditujukan pada Nayla.
"It's okay." Nayla menanggapi sambil tersenyum, "dan kau tak perlu terlalu formal padaku."

"Baiklah, aku akan membawa Monggu ke tempat penitipan untuk sementara. Jadi, kalian harus datang!" Kata Disha, ia mendapatkan pemecahan masalah untuk kucing kesayangannya dan alergi Nayla.

"Tapi...," Belum selesai Nayla menanggapi, Disha sudah memotong kalimatnya.
"Tenang saja, seluruh ruangan akan dibersihkan hingga bebas bulu dan debu." Kata Disha seakan mengerti apa yang akan dikatakan Nayla barusan. "Ok, bye! Kalian wajib datang!" Tambahnya lagi sambil berlalu menjauh.
Raka hanya tertawa dan membalas lambaian tangan Disha.
"Jadi?" Pria berkacamata itu memastikan jawaban Nayla.

"Baiklah, ia sudah berusaha keras agar kita datang." Nayla menjawab setelah membaca kembali isi kartu undangan tadi. "Jangan lupa bujuk Papamu untuk turut hadir."
"Okay, kita bicarakan lagi nanti." Jawab pria muda yang telah menjadi anaknya selama beberapa tahun terakhir. Yah, usia mereka hanya terpaut beberapa tahun saja.
***
"Terima kasih, kalian sudah datang," sambut Disha begitu Raka, Papanya dan Nayla memasuki halaman rumah. Jabat tangan bersahabat serta pelukan hangat turut melengkapi sambutan dari Disha.

Nayla mengangguk dan mengikuti langkah sahabat anaknya itu memasuki ruangan, melepas gandengan Papa Raka yang segera menghampiri tuan rumah dan tamu lainnya. Ia memang belum lama bergabung dengan lingkar pertemanan keluarga barunya tapi perlakuan mereka sangatlah hangat.

"Hai!" seorang gadis cantik yang Nayla tahu bernama Merry melambai kearah mereka.
Nayla membalas lambaian dan bergegas mendekat, karena Disha juga melakukan hal yang sama. Rupanya Merry tengah menunjukkan kemampuan nail art-nya. Beberapa orang di dekat sana telah selesai dipercantik kukunya.
"Kau mau juga?" Tawar Merry pada Nayla.
"Bolehkah?"
***
Malam semakin larut, sementara belum ada tanda-tanda kalau mereka akan segera mengakhiri pesta kecil itu. Pesta ulang tahun sekaligus sebagai pesta perpisahan karena Disha hendak melanjutkan kuliahnya di luar negeri.
"Sha, aku pamit balik dulu ya!" Pinta Raka pada Disha sang empunya pesta yang sedang menuruni anak tangga.

"Aih, kenapa buru-buru?" Kata gadis itu berusaha mencegah, karena memang sebagian besar tamu undangan yang tak lain adalah keluarga tetangga dan teman terdekatnya sudah pulang. Diliriknya jam mungil di tangan kirinya. "Baru juga jam sebelas, kita main game dulu yuk!"

"Aku harus pulang bersama Mama, bisa habis aku dibantai Papa kalau pulang lewat tengah malam." Jawab Raka setengah berseloroh. Papanya sudah izin meninggalkan pesta sekitar satu jam setelah mereka datang karena ada urusan di tempat lain. "Kau tahu kan, udara malam kurang baik untuk kesehatannya. Eh dimana dia?" Diedarkannya pandangan ke sekeliling ruangan pesta. Hanya beberapa orang yang tak begitu akrab dengannya dan kekacauan sisa pesta.

"Dia beristirahat di kamarku, tadi sempat kambuh pas main catur sama Angel di balkon." Disha menunjuk ke atas, artinya orang yang dimaksud ada di lantai dua. "Sepertinya ada bulu Monggu yang tertinggal di papan catur nya." Sesal gadis itu.
"Cih, wanita manja penyakitan itu terus saja jadi parasit keluargamu?" Merry yang baru masuk dari pintu samping di dekat sana ikut menyahut. Gadis cantik ini memang sudah lama menaruh hati pada Raka, semua orang tahu itu. Ia tak suka dengan kedekatan Raka dan Nayla belakangan ini, walau status mereka sebagai ibu-anak.
Raka dan Disha diam tak menanggapi, karena tahu bagaimana sifat Merry. Sedikit heran juga dengan pertanyaan yang dilontarkan, padahal sejak awal pesta beberapa jam lalu terlihat Merry mengobrol seru dengan Nayla dan lainnya.

"Bukankah kau dulu tidak akur dengan wanita itu, kenapa sekarang kalian lengket sekali?" Tanya Merry pada Raka yang memang dulu menentang pernikahan Papanya dengan Nayla.

"Itu cerita lama, aku berusaha memahami Papa dan menerima Mama. Kami sudah baikan kok." Raka menjawab cepat sambil tersenyum.
"Dan merelakan dia menjadi Mamamu?"

Raka terdiam, tangannya terkepal erat. Sesaat kemudian ia kembali santai dan memaksakan untuk tersenyum.

"Gabung main game bareng Tania, Angel dan Marco aja yuk Mer!" Disha menarik tangan Merry menuju ruang tengah untuk mencairkan suasana yang mendadak canggung. "Tas Nayla ada di gantungan sebalik pintu kamar tamu." kata Disha sebagai isyarat agar Raka segera pergi.

"Ntar aku nyusul." kata Merry. Ditepisnya tangan Disha dan berlalu keluar menuju halaman setelah melirik Raka sekilas.

"Dasar, tak ada rotan akar pun jadi. Nggak dapat anaknya, Papanya pun jadi." Gumam gadis itu lirih, nyaris tak terdengar. Raka terkejut karena Merry tahu tentang perasaan Nayla yang bertepuk sebelah tangan padanya beberapa tahun lalu.
Raka membuka pintu ruang yang diketahuinya sebagai kamar tamu. Ada seorang teman Disha tengah beristirahat di ranjang kamar itu. Reflek terbangun saat Raka masuk.

"Ah, sorry. Aku cuma mau ambil tas saja kok." Jawab Raka sambil mendekat dan mencari tas kecil milik Mamanya yang berderet dengan tas tamu lainnya. Memang kamar itu dimanfaatkan sebagai tempat penitipan barang agar tak mengganggu pesta.
***

"Thank's Kak Na," kata Raka karena mereka diperbolehkan menumpang mobil kesayangan sahabat Nayla itu. Sebenarnya ia membawa mobil sendiri, tapi sial bannya malah kempes.

"Hanya sampai gang depan sih nggak masalah, sorry nggak bisa ngantar sampai rumah." Na menjawab sambil berjalan menuju halaman tempat mobilnya terparkir dan terus fokus pada ponselnya.

"Tak apa Na, kamu kan lagi buru-buru." Nayla menyahut sambil tersenyum, ia telah siap untuk pulang.

"Ah iya kau benar," Na melihat jam di ponselnya sekilas.
"Eh, tumben kak Na merawat kuku?" Raka mengomentari penampilan kuku Na yang tak biasanya.

Na tertawa menanggapinya, sambil memperlihatkan seluruh jemari tangan, "cute kan? Merry yang membuatnya tadi. Jago banget nail art-nya." Katanya sambil melempar kerlingan pada Merry yang tersipu di samping Raka.
"Wah, diam-diam kamu memiliki bakat." Raka memuji. Yang semakin menambah rona merah di wajah gadis itu.

Merry memutuskan untuk pulang dan ikut menumpang karena kebetulan rumahnya searah dengan tujuan Na saat itu.

"Aish, malah keasyikan ngobrol di sini. Yuk!" Na menggerutu sendiri dan segera masuk mobil lalu menyalakan mesin. "Nayla, hentikan kebiasaan burukmu atau kau akan menyesal!"

Raka menoleh ke arah Nayla, begitu juga Merry. Melayangkan tatapan penuh tanya.
"Uh, itu bukan apa-apa." Nayla menjawab gugup. Segera ia membuka pintu mobil.
"Pakai ini, dingin." Kata Raka sambil memakaikan syal yang tadi dipakainya pada Nayla.

Nampak jelas raut tak suka di wajah Merry begitu melihat adegan di depannya. Diremasnya tali tas selempang yang dipakainya, sekedar melepas kekesalan.
Nayla terdiam sesaat karena perlakuan itu.

"Ya ampun Raka, aku tak keberatan mematikan Ac-nya kok." Kata Na, sambil melempar senyum iseng pada Nayla.
"Pfft," Raka menahan tawa sambil menunjuk ibu jari tangan kanan Nayla yang sedang digigiti karena gugup. "Lihat, jadi rusak kan?"

"Apa kubilang," Na tertawa lepas melihat tingkah Nayla.
Mendengar hal itu Nayla segera menghentikan gigitannya. Karena malu, ia menutup wajah dengan syal dan masuk mobil. Na akhirnya duduk di sebelah Nayla karena Raka mengambil alih kemudi dan Merry di kursi depan.

Tak lama mobil itu sudah meluncur di jalanan. Obrolan ringan mewarnai suasana dalam mobil, tidak jauh-jauh dari Na yang menggoda Nayla. Hingga syal yang dipinjamkan Raka tadi selalu ditutupkan di wajahnya. Tiba-tiba kepanikan melanda wanita itu, nafasnya tak beraturan seakan habis lari jauh.

Raka yang tanggap suasana segera memperlambat laju kendaraan dan memberitahu Na untuk mengambilkan obat di tas Nayla. Na menarik tas selempang yang disandang di bahu kiri Nayla, setelah mengobrak-abrik isinya, ia segera mengulurkan suatu benda yang langsung didekatkan pada mulut Nayla begitu membuka tutupnya.
Sejenak kepanikan di wajah wanita muda itu berkurang tapi hal yang terjadi selanjutnya sungguh diluar dugaan.

Nayla, nafasnya kembali tak beraturan, kejang-kejang dan wajahnya pasi.
***
Rute perjalanan mereka berubah, Rumah Sakit menjadi tujuannya. Pertolongan pertama segera diberikan ketika mereka sampai di UGD. Namun sayang, nyawa Nayla pada akhirnya tak tertolong.

Raka terduduk lemas di koridor dekat UGD, tas selampang Mamanya masih tersandang di bahunya. Ia menguatkan hati memberitahu kabar duka itu pada Papanya.
***
Beberapa jam berselang setelah Nayla masuk di UGD, hasil pemeriksaan keluar. Dinyatakan bahwa kematian Nayla karena sianida.
Bersambung....

Kirim jawaban Anda di kolom komentar dan cocokan dengan FC Asli nya, Terima Kasih.

~Fakta bukanlah fakta tanpa adanya bukti~
Fc ini bukanlah patokan mutlak dalam penilaian, jika ada jawaban lain yang lebih logis dan disertai dengan bukti maka tidak menutup kemungkinan mendapat nilai maksimal.
***

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kematian Nayla dikarenakan sianida. Yang mana artinya, Nayla tidak meninggal secara wajar. Lalu, bagaimana yang sebenarnya terjadi??

Pertama, kematian karena sianida atau dengan kata lain pembunuhan memakai racun. Tentu ada orang yang memiliki motif kuat hingga melakukan kejahatan melanggar hukum tersebut. Mari kita bahas kemungkinannya satu per satu.

- Raka, orang yang dekat dengan Nayla. Dia adalah anak tiri karena pernikahan korban dengan Papanya Raka. Diketahui bahwasannya cinta Nayla pernah bertepuk sebelah tangan pada Raka. Dalam cerita disebutkan kalau pada awal pernikahan korban dengan Papanya, hubungan mereka tidak akur. Dan Papanya sangat menyayangi Nayla. Ada kemungkinan ia masih memiliki rasa benci atau tidak suka pada korban.

- Disha, tetangga korban yang mengadakan pesta. Tidak ada motif khusus hingga ia membenci korban.

- Merry, teman Raka yang tidak menyukai kedekatan korban dengan Raka. Sudah menyukai Raka sejak lama, namun bertepuk sebelah tangan. Mengetahui kisah cinta Nayla yang juga bertepuk sebelah tangan pada Raka. Di depan Nayla menunjukkan sikap ramah dan bersahabat, namun dibelakangnya menunjukkan kebencian.

- Na, sahabat Nayla. Tidak ada motif khusus hingga ia membenci korban.
Ada beberapa tokoh lain, namun karena sangat minim keterangannya maka bisa disisihkan dari daftar.
Kedua, karena alat pembunuhnya adalah zat beracun, tentu haruslah ada waktu khusus untuk memberikannya pada korban. Bisa dilihat dari interaksi korban dengan orang lain sebelum kematiannya.

- Raka, ia memiliki peluang paling besar dibanding tokoh lain. Karena ia dekat dengan Nayla, serta tahu kebiasaan-kebiasaannya maka akan sangat mudah baginya untuk memberikan zat racun tersebut pada korban. Bisa saat di rumah atau selama pesta berlangsung.

- Disha, satu-satunya peluang adalah dengan memanfaatkan jamuan pestanya. Entah dari sajian makanan atau yang lainnya.

- Merry, ia juga memiliki peluang cukup besar karena ada interaksi intens selama pesta. Bisa saja ia membubuhkan racun di nail art karyanya.
- Na, kesempatan terbesarnya adalah saat ia memakaikan alat saat Nayla kambuh. Alat tersebut adalah inhaller.
Ketiga, tentang alat pembunuhan.
Sianida, bukanlah barang yang tiap hari bisa kita jumpai. Dan tidak mudah pula untuk mendapatkannya dalam waktu singkat. Maka, kemungkinan terbesarnya adalah, pelaku telah mempersiapkan semuanya. Artinya ini adalah pembunuhan berencana.

- Raka, ia mengetahui kebiasaan korban dan dengan memanfaatkan keadaan ia akan sangat mudah menjalankan rencana pembunuhannya. Dengan mengasumsikan ia mempersiapkan sianida terlebih dahulu dan menggunakan pesta tersebut untuk menjalankan rencana.

- Disha, belum terlalu dekat dengan korban. Namun tetap memiliki kesempatan menjalankan rencana pembunuhan. Bisa saja kita mengasumsikan bahwa, ia telah memiliki zat tersebut dan bisa menggunakannya sewaktu-waktu.

- Merry, menunjukkan rasa tidak suka namun berinteraksi sewajarnya saat bertemu. Bisa kita asumsikan bahwa ia sangat membenci Nayla hingga mempersiapkan racun sianida untuk membunuhnya. Dan membawa kemana-mana hingga ada kesempatan.
- Na, sahabat dekat korban tentu tau kebiasaan-kebiasaannya. Jika benar dia berniat membunuh, bisa kita asumsikan ia telah mempersiapkan dan menggunakan kesempatan dengan baik.
Dari tiga hal yang telah dibahas, kita bisa mempersempit kemungkinan dan mengeliminasi beberapa.

- Na, dia sahabat dekat korban dan memiliki kesempatan besar untuk menjalankan rencana pembunuhannya namun ia tidak memiliki motif kuat.

- Disha, dia baru kenal dan tidak dekat dengan korban.Tidak ada motif membunuh dan terlalu beresiko serta janggal jika ia membunuh korban.
Tersisa Merry dan Raka, keduanya memiliki motif dan juga kesempatan untuk membunuh.

Merry dengan motif cemburu serta hendak menyingkirkan orang yang dekat dengan Raka. Ia memberikan racun pada saat menghias kuku Nayla. Itu sangat mungkin terjadi, namun terlalu beresiko serta kurang pas. Merry hanya tahu tentang kedekatan korban dengan Raka dan sepertinya mencaritahu masa lalu korban. Karena ia mengetahui tentang kisah cinta bertepuk sebelah tangan Nayla pada Raka. Dia tidak tahu kebiasaan korban yang menggigiti kuku saat gugup. Dan juga ia akan menjadi orang pertama yang dicurigai jika ditemukan zat pembunuh tersebut di nail art karyanya. Sama saja ia menyerahkan diri. Karena itu, kemungkinan Merry sebagai pelaku bisa kita sisihkan dahulu.

Raka lebih mungkin menjadi pelakunya, karena ia tahu kebiasaan korban, tahu kebiasaan orang sekitar yang dekat dengan korban. Ia bisa memanfaatkan semua itu untuk memuluskan aksinya, bahkan mengalihkan kecurigaan pada orang lain.
Jika diingat kembali, reaksi racun pada korban sangat cepat dan dosisnya tinggi (karena reaksi muncul dalam hitungan menit hingga jam). Berdasarkan hal tersebut kita bisa mengasumsikan jalur masuknya racun ke tubuh korban.

- Melalui pencernaan atau tertelan, membutuhkan waktu beberapa saat hingga muncul reaksinya dan bertahap. Tapi pada korban, tidak muncul tahapan reaksi awal. Maka kemungkinan paparan racun bukan dari jalur ini.

- Melalui peredaran darah atau disuntikkan,
Reaksinya lebih cepat dari paparan melalui pencernaan namun kekurangannya adalah korban tentu akan merasa saat racun disuntikkan atau ditusukkan benda pada tubuhnya. Dalam kasus ini tidak ada keterangan tentang ini. Jadi, kemungkinan ini bisa disingkirkan juga.

- Melalui pernafasan atau terhirup.
Reaksinya lebih cepat dibanding jalur pencernaan apalagi dalam dosis tinggi. Sangat mungkin terjadi dalam kasus kali ini karena ada interaksi korban dengan alat yang berkaitan dengan pernafasan.

***
Dari seluruh pembahasan di atas yang menyisakan dua kemungkinan pelaku, kita bisa mengambil kesimpulan. Bahwasannya paparan racun pada korban melalui pernafasan dan kemungkinan besar memanfaatkan inhaller yang selalu dibawa korban. Raka dan Na tentu tahu tentang penyakit korban serta kebiasaannya. Merry juga mungkin tahu saat menyelidiki masa lalu korban. Namun Na tidak ada kesempatan memberikan racun itu karena ia membantu memakaikan inhaller saat kebetulan korban menumpang dan kambuh di mobilnya. Bukan direncanakan olehnya.

Merry disebutkan sama sekali tidak menyentuh alat tersebut walau tetap ada kemungkinan ia mengutak-atiknya saat tas dititipkan di kamar tamu rumah Disha. Namun perlu diingat saat di balkon ia sempat kambuh, artinya inhaller dipakai saat itu untuk meredakan ashma yang dideritanya. Namun tidak ada reaksi terkena racun sianida, maka bisa dikatakan kalau saat itu inhaller masih aman. Dari sini, kemungkinan Merry sebagai pelaku melemah.

Terakhir, Raka yang memiliki motif dan kesempatan paling besar. Ia menentang pernikahan Papanya dengan Nayla, karena tidak mau posisi Mama kandungnya digantikan dan juga merasa tidak nyaman mengingat riwayat hubungannya dengan Nayla. Merry menyebut Nayla sebagai parasit tentu bukan asal sebut atau tanpa alasan, apalagi Raka tidak menyanggahnya sama sekali. Ia memiliki motif untuk menyingkirkan wanita muda itu, karena Papanya sudah sangat menyayangi Nayla. Selain itu ia juga mengetahui penyakit dan kebiasaan korban. Bisa kita asumsikan sebagai berikut. Raka merencanakan pembunuhan itu dengan memakai racun, ia mempersiapkan sianida dan menyusun skenario untuk memberikannya tanpa dicurigai. Yaitu dengan memicu agar korban memakai inhaller yang telah diberi sianida.
Undangan dari Disha dinilai pas untuk dijadikan panggung skenario yang disusunnya. Ia sengaja membuat ban mobilnya sendiri kempes sehingga ada alasan menumpang mobil orang lain. Membuat Nayla tersipu dengan meminjamkan syal yang sebenarnya telah diberi alergen pemicu asmanya. Walau butuh beberapa lama tentu akan ada reaksi yang mengharuskan Nayla memakai inhallernya. Adanya saksi dan ia minim kontak dengan alat yang jika diperiksa tentu akan menunjukkan kontaminasi sianida, akan memperlemah kecurigaan padanya. Ia memberikan sianida tersebut di inhaller sesaat setelah ia mengambil tas Nayla di ruang tamu atau menukarnya dengan inhaller sejenis yang telah diutak atik. Kemudian ia sengaja mengambil alih kemudi, agar orang lain yang membantu Nayla memakai inhallernya. Selanjutnya bisa diduga, sianida dosis tinggi dihirup sendiri oleh Nayla yang mengakibatkannya kejang-kejang hingga akhirnya tak tertolong.
***
Best Regards,
Ve~



Metaltailaco

[Featured][recentbylabel2]

Rock & Metal

[Featuredl][recentbylabel2]
PENGUMUMAN
Setiap sabtu dan minggu, reward pulsa untuk pengirim postingan #SangPujangga terbaik
Done