
Malam yang indah, jutaan bintang yang
bertebar di langit seakan menjadi saksi dalam gelapnya malam. Cahaya redup
rebulan yang sepi dan mengisyaratkan kedinginan. Turun menuju bumi menerangi
setiap sudut sebuah taman.
Seorang wanita tengah duduk di kursi
taman sambil menangis .
"kenapa kau tidak adil padaku tuhan," ucapnya sambil menatap langit.
lalu sebuah suara terdengar.
"Apa kau mau tuhan bersikap adil?," tanya suara itu.
"ya, aku mau. " kata wanita itu sambil mengedarkan pandangan ke
segala penjuru arah.
"kalau begitu aku akan memberimu keadilan," kata suara itu yang
ternyata adalah Aurora yang mengenakan jubah panjang keluar dari pohon yang tak
jauh dari tempat wanita itu berdiri.
Sontak wanita itu terkejut, melihat
seorang wanita yang tak ia kenal dan dengan jubah yang aneh.
"siapa kau?," tanya wanita itu sambil mundur 3 langkah menjahui.
"aku adalah utusan tuhan yang akan mengadilimu, bukannya kau minta untuk
di adili." kata Aurora sambil mengambil sebuah pisau dari dalam
jubahnya.
"apa yang mau kau lakukan?," tanya wanita itu sambil terus melangkah
menjahui wanita berjubah itu.
"aku akan mengadilimu," kata Aurora dan langsung melemparkan pisau ke
paha wanita itu.
Seperti suara angin, tanpa sadar wanita itu jatuh tersungkur dan pisau sudah
menancap di pahanya.
"argghh"teriak
wanita itu.
Mencabut pisau aurora yang tertanam cukup dalam, dan darah langsung menyembur
keluar.
"ku mohon lepaskan aku, aku tak punya salah denganmu." lanjutnya
dengan nada terisak isak, dan air mata keluar dari bola matanya yang sejak awal
sudah lebam.
"jangan tolong,jangan bunuh aku, aku akan membayarmu berapapun asal kau
mau membiarkan aku hidup." kata wanita itu sambil merangkak mundur ke
belakang.
Melihat Wanita itu, Aurora seperti
melihat dirinya sendiri tak berdaya meminta pertolongan dan taka da siapapun
yang menolong, menyedihkan.
Aurora langsung maju dan mengambil
beberapa pisau dari jubahnya, menusukkan 5 pisau ke bagian tubuh wanita itu.
Kedua tangan, kedua kaki, dan dada kanannya kini sudah tertancap pisau. Aurora
menindih di atas tubuhnya, tak bisa bergerak dan darah sudah menggenang di
bawah mereka. Dengan mata yang di penuhi kebencian dengan dirinya sendiri, mata
yang menyala dan nafsu membunuh sudah tak tertahan, mengambil posisi badan
miring, memundurkan tangan kanan dan telapak nyaris rata, Aurora langsung
menusukan tangannya tepat ke jantung wanita itu.
Jeritan wanita itu semakin menjadi jadi, darah
sudah menyebar ke mana mana. Aurora masih diam memegangi jantung wanita itu
yang masih berdetak di tangannya.
"aahhh bau ini, warna ini, rasa ini, sangat indah warna, dan bau yang
tidak pernah menghianatiku, membuat tubuhku merasakan hal yang berbeda." kata
aurora dengan nada seperti orang yang sakit jiwa.
Dengan darah yang mengucur dari
berbagai bagian tubuh, dan nafas yang sudah tersegal-segal. Tubuh wanita itu
kejang, tak sanggup dengan segala penyakit yang di alaminya. Seketika terdiam
tak ada suara jeritan, jantung yang sudah tak berdetak lagi dan kulit perlahan
memucat.
Senyumnya seakan menghilang, tawa gilanya
menjadi normal, dan mengeluarkan tangan kanannya dengan jantung wanita itu.
"harusnya aku diam kan saja dia sampai mati kehabisan darah tadi, bodohnya
aku." gumamnya dalam hati.
Membersihkan
dirinya, dan segala jejaknya. Mengambil semua pisau yang ada lalu berdiri
melangkah pergi.
"baiklah perburuan malam ini cukup sampai sini saja aku akan
melanjutkannya besok lagi, lagian PRku juga masih banyak." lanjutnya dengan
nyanyian kecil sambil meninggalkan wanita yang sudah mati, melihat sebuah tanda
pengenal yang bercampur dengan darah.
Aurora tersenyum dan melihat kembali
ke belakang.
"jantungmu aku simpan ya nyonya Rose Smith"
””””””””””””””””””””””””
Profil:
Nama: Rose
Smith
Umur: 35 thn
Jenis kelamin: Wanita
pekerjaan: Guru privat
catatan: Ia menangis karena telah ditinggalkan oleh suaminya, dihari yang sama
saat ia meninggal.
laporan:
di temukan dengan keadaan tidak bernyawa dan kehilangan banyak darah
dan tidak di temukan adanya jantung di tubuhnya
di duga
pembunuhnya adalah psikopat yang ahli karena tidak menemukan jejak
sedikitpun, karena kurangnya bukti polisi akhirnya memutuskan untuk menutup
kasus ini.
Bersambung…..