CHALENGE 10 : THE MISSIONARIES - Riddle Story Indonesia
News Update
Loading...

Minggu, 30 Juni 2019

CHALENGE 10 : THE MISSIONARIES



*CHALENGE 10 : THE MISSIONARIES

Aku sempat berfikir bahwa temanku Holmes mungkin akan jadi penyebab banyak penyihir dihukum mati jika dia hidup di abad kegelapan eropa karena para penyihir tentu tak akan dapat bersembunyi dibalik topeng sains yang mereka pelintir seolah mistis. Temanku itu membuktikan bahwa hal yang dianggap mistis oleh orang awam hanyalah alat penipuan yang sering mencelakai orang awam yang enggan mencerna kejadian dengan akal sehat. Contohnya anjing dan pengantin setan yang menebar teror serta ketakutan pada beberapa orang, yang terbongkar oleh kejelian Holmes yang mengedepankan logika daripada prasangka yang teracuni mistisisme. Namun tak seperti dua kasusmistis itu, kisah petualangan kami yang satu ini menjelaskan alasan mengapa Holmes tak akan mengijinkan baik aku maupun Mrs.Hudson membereskan tumpukan dokumennya yang makin lama memenuhi kamar sewa kami karena selain Mind Palace yang ada di kepalanya, tumpukan dokumen itu gudang informasi bagi otaknya yang jenius itu. Ini adalah kasus pertama yang ditangani tenmanku itu di awal abad ke 20, sebuah kasus yang menunjukkan bahwa manusia bisa melakukan apa saja untuk menunaikan ambisinya.

Kasus ini berawal dari kedatangan seorang pria yang hampir saja diusir oleh Mrs.Hudson karena beliau menganggapnya kurang sopan sebagai tamu. Tentu saja beliau berprasangka buruk pada pria itu karena Mrs.Hudson hanya melihat, bukan mengamati layaknya temanku Holmes. Setelah sekilas mengamati pria yang memaksa masuk dengan tidak sopan itu, Holmes segera meminta induk semang kami agar mengijinkan pria tersebut masuk.

“Saya dirundung kesialan sejak turun di stasiun, dan anda hendak menambah kesialan saya nyonya? Ayolah saya hanya ingin masalah-masalah saya segera selesai! Ini terkait ketentraman desa kami!” keluh pria frustasi yang dicegat Mrs.Hudson itu.

“Mr.Holmes, mengapa orang-orang yang bertamu padamu selalu datang dengan masalah?” tanya induk semang kami itu dengan raut jengkel, tentu saja kejengkelannya sebenarnya beliau tujukan untuk tamu itu, bukan kepada penyewa kamar yang baik seperti kami.

“Karena saya seorang Detektif Konsultan Mrs Hudson, dan saya pastikan klien saya tak akan mengacau disini, saya jamin itu.”

“Baiklah Mr.Holmes, saya akan siapkan teh di dapur, semoga orang ini berkenan meminumnya dan belajar bersikap layaknya tamu yang baik di rumah ini.” Mrs.Hudson percaya pada Holmes begitu saja karena beliau sangat yakin bahwa temanku itu jarang salah membaca seseorang.

“Silahkan masuk tuan” Klien kami tersebut tak kunjung masuk meski kupersilahkan, dia malah mengambil sobekan kertas yang disimpannya dibalik Trench Coat hitam yang dikenakannya. Pria itu mengamati sobekan kertas itu hingga hampir-hampir kertas itu menutup kulit wajahnya sambil berkali-kali memicingkan mata mencocokkan gambar di kertas itu dengan wajah Holmes.

“Anda tidak salah alamat tuan, saya benar-benar Sherlock Holmes” Pria itu mengangguk dan akhirnya dia mengikuti kami masuk kedalam. Sungguh klien yang aneh pikirku, tadinya dia ngotot masuk, setelah dipersilahkan masuk dia malah tak kunjung masuk. Tak sedikit sebenarnya klien aneh yang pernah datang pada Holmes, ada pria bertopeng hingga wanita bercadar. Namun misteri yang dibawa orang-orang aneh itu tentunya lebih aneh lagi.

“Silahkan duduk tuan..” Aku mempersilahkan klien tersebut sedangkan Holmes tak seperti biasanya dia langsung membenamkan tubuhnya di kursi sambil memejamkan mata.

“Seperti itukah cara anda menyambut klien Mr.Holmes!?” Protes pria itu dengan mata geram. Holmes hanya tersenyum sambil bergumam “Tenang saja, saya sudah tahu sebagian dari kemalangan anda hari ini, bahkan sebelum anda bercerita.” Pria itu terlihat makin geram dengan omongan teman sekamarku itu.

“Omong kosong, saya kira anda adalah detektif yang handal, ternyata anda hanyalah seorang dukun” Ujar pria itu dengan penuh emosi.

“Dukun? Baiklah tuan yang belum memperkenalkan diri, jika saya berpendapat bahwa anda adalah seorang pria terhormat yang datang dari Weymouth, kota tepi laut di Dorset Country,karena akhir-akhir ini dirundung masalah pelik ditambah kesialan kecil kehilangan kaca mata anda saat tadi cuci muka di stasiun. Apakah anda masih mau bilang saya dukun?”

“Tentu, aku malah tambah yakin bahwa kau seorang dukun.” Pria itu setengah heran mendengar Holmes membaca nasibnya hari ini.

“Ya, anda tepat sekali, memang dukun adalah sebutan yang layak bagi saya jika saya tak bisa menjelaskan pada anda bagaimana saya bisa tahu semua itu.” Temanku itu mulai menunjukkan bahwa dia seorang Detektif dengan deduksi Briliantnya.

“Jelaskan pada saya Mr.Holmes, saya ingin bukti nyata keahlianmu yang tersohor itu”Temanku Holmes tersenyum dan mulai menatap klient tersebut dengan tatapan tajamnya.

“‘Pertama adalah bekas kacamata di pelipis anda yang belum pudar, itu artinya anda masih berkacamata kurang dari sejam yang lalu, dan bekas kacamata seperti itu biasa di dapat saat orang memakai kacamata dalam waktu yang cukup lama, kemungkinan anda kelupaan melepas kacamata anda selama perjalanan sehingga anda tidur dalam keadaan masih mengenakan kacamata sehingga kacamata tersebut berbekas sangat jelas di pelipis anda, dan jika mengacu pada bekas kacamata yang masih membekas jelas tersebut maka kemungkinan besar kurang dari satu jam yang lalu anda masih berkacamata saat baru datang di stasiun baker street. Jika mengacu pada jadwal kedatangan kereta api yang saya baca di Koran hari ini, seharusnya hanya kereta api dari Weymouthyang datang kurang dari satu jam yang lalu, itulah yang mendasari saya berpendapat anda dari Weymouth.”

“Anda benar, saya memang dari Weymouth, tapi apa yang mendasari anda berpendapat saya datang naik kereta api dan turun di stasiun, dan bahkan kehilangan kacamata di toilet stasiun? Bisa saja kan saya kehilangan kacamata setelah keluar dari stasiun?”

“Tentu saya tidak ngawur berpendapat seperti itu, sekarang poin ‘kedua’ adalah tinta di sobekan kertas koran tersebut yang agak luntur, itu tentunya karena anda mengamati kertas tersebut dari dekat, Setelah mencuci muka di toilet anda sudah kehilangan kacamata anda dan anda agak kesal sehingga tak mengelap sempurna wajah anda setelah cuci muka, beberapa bagian wajah dan rambut bagian depan anda agak basah sehingga sedikit cucuran airnya membasahi kertas koran yang anda amati dengan jarak yang sangat dekat dengan wajah anda sehingga tinta di kertas tersebut agak luntur, coba fikir, jika saat itu anda masih memiliki kacamata tentunya anda tak perlu mengamati kertas koran itu dengan sangat dekat bukan? Dan perlu anda ketahui tuan, anda tak mungkin mendapatkan koran tersebut ketika di Weymouth, koran itu di distribusikan anak-anak jalanan baker street ke rumah-rumah pelanggan dan di sekitar sini hanya kios koran di depan pintu keluar masuk stasiun bawah tanah yang menjualnya pada masyarakat umum, anda tidak mungkin membeli koran itu di kios lain yang jaraknya satu kilometer dari sini bukan? Itulah yang mendasari pendapat saya tuan, Jika anda masih kurang puas, maka biar saya beritahu anda bahwa kusir kereta yang anda tumpangi tadi bernama Davy Jones, dia setiap hari mencari penumpang di depan stasiun Baker Street, bukan di tempat lain, dan warna putih baju anda terlihat sedikit agak kekuningan, sangat berbeda dari warna putih baju pada umumnya, hal ini terjadi karena Weymouth dekat dengan laut, air tanahnya terkontaminasi air laut sehingga membuat pakaian anda menjadi putih agak kekuningan, ini umum terjadi di kota dekat pantai seperti Weymouth. apa anda masih menganggap saya dukun?”

“Maafkan saya Mr.Holmes, bukan bermaksud meremehkan anda, jujur saja semua perkataan anda tadi benar, tentang dukun… saya sangat jengkel dengan dukun, atau orang berlagak seperti dukun, maaf saya tadi mengatai anda sebagai dukun.”

“Dukun kerap bertindak dan berkata tanpa dasar logika atau menutupi logika sehingga tidak tercerna, sedangkan Detektif seperti saya berfikir dan berkata sesuai fakta dan logika yang dapat dicerna akal sehat. Tentu sangat berbeda dengan dukun.”

“Saya rasa ini saatnya anda memperkenalkan diri tuan.” Kataku sambil menepuk pundak lelaki yang banyak fikiran itu. Holmes kini memejamkan mata lagi sambil bersiap mendengarkan masalah pria yang dikeluhkan pria itu .

“Maafkan saya yang memulai pertemuan ini dengan perdebatan, Nama saya adalah Yohan William Jansen, saya seorang hakim di Weymouth. Saya butuh bantuan anda Mr.Holmes, karena saya sedang berada di posisi yang sulit.”

“Semoga permasalahan anda benar-benar cukup sulit untuk dipecahkan Mr.Yohan.” Temanku itu entah apa yang dipikirkannya sehingga malah senang berhadapan dengan kasus yang sulit. Tapi itulah watak Holmes, kasus yang sulit bisa membuat hidupnya makin bergairah.

“Baiklah Mr.Holmes, sekitar dua minggu yang lalu terjadi kasus pembunuhan di Weymouth, tepatnya di St.Oswald’s Bay.”

“Bukankah itu tepi pantai bertebing?” Tanyaku.

“Benar sekali Mr.Watson. disana ada sebuah desa kecil yang dihuni sekitar 20an keluarga. Desa itu penganut kepercayaan pagan kuno yang sangat kolot, mereka dipimpin oleh seorang pendeta tua keturunan prancis Bernama Ulrich Mason. Pendeta itu dan istrinya telahmenjadi korban pembunuhan dan memicu amarah warga setempat.”

“Saya sempat membaca beritanya di Koran, bukankah tersangka sudah ditetapkan?”Tanyaku.

“Ya, dia adalah Misionaris, itulah yang menjadi masalahnya. Ada bukti kuat yang membantah keterlibatannya, disisi lain ada bukti di tempat kejadian yang mengarah pada mereka, jika ini tidak segera terselesaikan saya khawatir akan terjadi konflik.”

“Biara tempat kematian keduanya berada diatas tebing, dan hanya sebuah jalan setapak menuju biara itu, tiada jalan lain kecuali si pembunuh bisa terbang karena tidak mungkin seseorang melewati jalan setapak itu tanpa sepengetahuan pengawal biara yang berjaga gerbang jalan setapak.” Klien kami terperangah saat mendengar Holmes bisa mendeskripsikan tempat kejadiandengan tepat.

“Ba..bagaimana anda bisa tahu detail tempat kejadian? Apa anda pernah ke sana?” Tanya klien kami. Tak hanya dia, akupun sebenarnya heran mengapa Holmes bisa tahu.

“Dari Catatan Maycroft yang kusimpan. Dulu Maycroft pernah membantu scotland yard menyelesaikan kasus pembunuhan saat perayaan Mardi grasyang diadakan orang-orang keturunan prancis disana. Itulah sebabnya aku tak membiarkan kau mengusik arsip-arsip lawasku Mr.Watson.” Jawab Holmes sambil menghembuskan asap dari hidungnya.

“Itu berarti anda sudah tahu betul seluk beluk kasus ini tuan Holmes?” Klien kami terlihat berbinar saat bertanya pada Holmes.

“Saya bukan dukun Mr.Yohan, saat berita itu dimuat di koran, saya langsung meminta salinan detail penyelidikan pada Lestrade, dari warna merah-ungu di kulit bagian punggung keduanya. Dari sana disimpulkan kedua korban mati sudah lebih dari 3 jam.. Tapi meski telah membaca data dari Lestrade saya ingin mendengar dari anda, saya ingin mencocokkan apakah ada yang berbeda hingga timbul polemik di kasus mudah ini.”

“Baiklah tuan Holmes saya akan jelaskan ulang, dua korban adalah Ulrich Mason dan Diane Mason, di temukan tewas oleh anaknya dan warga sekitar pukul tujuh malam.”
“Nah.. menurut laporan dari Lestrade yang menemukan adalah anak perempuan mereka, Joane Mason, jadi mana yang benar? Arsip yang dikirim ke pengadilan atau salinan arsip yang dikirim Lestrade padaku?”

“Oh.. sebenarnya kuduanya benar Mr.Holmes. Memang yang pertama kali melihat keduanya bersimbah darah adalah putri mereka Joane, maafkan saya yang memberikan kronologi kurang detail. Biar saya ulang, Pada hari itu Joane sejak pagi pergi ke kota untuk menemui seseorang dan kembali setengah tujuh malam, itu disaksikan oleh dua penjaga gerbang yang ada di bawah bukit, Memang Joane sering dipanggil ke kota untuk melukis karena Joane seorang pelukis yang hebat, bahkan Walikota Weymouth kagum karena dia bisa melukis sosoknya dengan sangat detail. Dua orang penjaga gerbang itu juga tak beralih dari sana sejak jam delapan pagi, mereka baru berganti giliran jaga saat pukul delapan malam, warga desa saat itu sedang melakukan persiapan Mardi Gras yang rencananya akan diselenggarakan di jalanan depan gerbang, jadi banyak saksi bahwa dua penjaga itu tetap di pos jaganya mulai pagi. Setengah jam setelah naik ke atas tebing Joane Turun sambil menangis, dia melihat dari jendela depan ayah dan ibunya bersimbah darah, dia meminta bantuan warga untuk mendobrak pintu biara yang terkunci rapat. Setelah pintu terbuka, mereka mendapati tragedi, Diane Mason terlentang tak bernyawa dengan luka tembak yang membuat mulutnya hancur, sedangkan Ulrich mengalami hal yang lebih tragis, telapak tangan kanannya terbakar, setelah memadamkan api di tangan kanan Ulrich salah satu penjaga gerbang membalik tubuh Ulrich dan mendapati kondisinya sama dengan istrinya, mulutnya hancur karena luka tembak!!!”

“Hmm.. Ini menarik sekali, apakah orang di bawah bukit tidak mendengar suara tembakan?”

Mr.Yohan Menggeleng.”Biara itu kedap suara, kami sudah menguji dengan menembakkan senjata api dari dalam dan terbukti suaranya tiada terdengar sampai ke bawah bukit, dan ada hal yang paling menarik perhatian adalah tulisan dari darah yang ada di dinding ruangan tersebut”

“MARK 9:43, Tulisan itu sama persis dengan tulisan tangan sang misionaris” Sahut Holmes, Untuk kesekian kalinya Mr.Yohan terkejut, dia tak menyangka Holmes tahu tentang tulisan dari darah itu.

“Anda rupanya sudah sangat tahu detail perkara ini, mengapa anda tetap meminta saya menjelaskan hal yang sudah anda ketahui?”

“Tentu saja, saya juga tahu kalau ada bunga Lily yang akarnya masih basah tergeletak begitu saja di dekat jendela kecil di sisi kanan Altar. Dan tidak ditemukan sama sekali senjata yang digunakan untuk menembak kedua korban.”

“Anda pasti juga tahu kan kalau hanya jendela ventilasi yang hanya dapat dilewati kucing itu satu-satunya jalan keluar dari biara selain pintu biara, dan yang hanya dapat melaluinya hanya seekor kucing, di bawah jendela kecil itupun hanya tebing terjal, bisa keluar lewat sanapun si kucing akan langsung jatuh ke laut. Ayolah Mr.Holmes, jangan terus menpermainkian saya, anda pasti sudah tahu detail perkara ini kan?”

“Saya bahkan lebih tahu dari anda bahwa Diane seorang janda beranak satu saat dinikahi Ulrich, dan saya juga tahu siapa yang ditemui Joane di kota” Kata Holmes sambil menunjuk ke arah Yohan.

“Anda sangat hebat Mr.Holmes...”Mr.Yohan terlihat terkejut.

“Anda tidak perlu takjub begitu, ini bukan deduksi, lestrade yang memberi tahu saya, itu yang membuat anda dalam dilema bukan?”

“Saya yang mengajak Joane rutin menghadiri khotbah misionaris, Joane terlihat antusias untuk meninggalkan Paganisme tapi dia merahasiakan dari kedua orang tuanya. Beberapa hari sebelum kejadian itu, Joane ingin mengajak ibunya untuk datang, tapi dia takut ayahnya akan murka.Saat waktu kematian kedua korban, sang misionaris sedang berkhotbah di depan banyak orang, jadi mana mungkin dia membunuh keduanya?”

Holmes tersenyum dan suasanapun jadi hening.
“Saya tidak perlu buang-buang waktu ke Weymouth untuk kasus mudah yang bisa saya selesaikan sambil duduk di kursi malas saya...”

Bersambung ......
(Silahkan pecahkan case di atas dengan melanjutkan cerita ini di kolom komentar, pastikan Anda mengeluarkan bukti yang kuat agar tidak terjadi semacam tuduhan, jika sudah silahkan cocokan dengan FC Asli atau jawaban asli, jika jawaban Anda sekilas banyak kemiripan pada bukti maka Anda sudah benar.)

Kunci kasus tersebut adalah kejanggalan pada Livor Mortis, dalam case LM disiratkan dengan kata merah-ungu di bagian punggung keduanya dari sana disimpulkan kematian sudah lebih dari 3 jam. Dari LM tersebut bisa diketahui bahwa selama lebih dari 3 jam posisi kedua jenazah harusnya terlentang, bukan tengkurap seperti saat ditemukan warga. Ini membuktikan bahwa posisi jenazah telah diubah dari posisi semula. Dan satu-satunya orang yang bisa mengubah posisi jenazah keduanya adalah Joane. Saat masuk biara, Joane menemukan kedua orang tuanya dalam keadaan meninggal, si ayah tiri membunuh ibu kandungnya, jika dibiarkan seperti itu, maka Joane tidak akan dapat apa-apa karena jika Ulrich membunuh Diane berarti mereka otomatis bercerai karena pembunuhan, dan Joane tidak akan dapat sepeserpun sebagai anak tiri yang ibunya terhitung telah bercerai dengan Ulrich. Tapi berbeda jika seolah ada orang lain yang membunuh Ulrich dan Diane, maka Diane dan Ulrich tetap terhitung suami isteri sampai mati, dan meski anak tiri Joane tetap akan berhak mendapat warisan. Maka diapun menyusun rencana, dia mengubah posisi kedua mayat jadi tengkurap agar seolah dibunuh, dan membuang pistolnya ke laut melalui jendela, dia juga membakar tangan kanan Ulrich untuk menutupi residu tembak yang ada di tangan kanannya, dia juga menulis pesan dari darah dengan gaya tulisan misionaris, dia sangat mudah menirunya karena dia seorang pelukis, dan tentu saja dia tahu dan mudah ingat detail gambar maupun tulisan, dan mampu dengan mudah mempublikasikannya. Karena tangannya tercemar darah, Joane mengambil Vas bunga yang tentu saja berair, dia memakai air dari vas bunga untuk mencuci tangan, dan membuang Vas bunga itu keluar dari jendela, saat mencuci tangan dengan air dalamVas ada bunga lily yang terjatuh di lantai tanpa dia sadari. Setelah semua beres, Joane melanjutkan aktingnya memanggil warga dan bermain sebagai yatim piatu yang patut diberi simpati.

Comments


EmoticonEmoticon

PENGUMUMAN
Setiap sabtu dan minggu, reward pulsa untuk pengirim postingan #SangPujangga terbaik
Done