*CHALENGE 10 : THE
MISSIONARIES
Aku sempat berfikir bahwa
temanku Holmes mungkin akan jadi penyebab banyak penyihir dihukum mati jika dia
hidup di abad kegelapan eropa karena para penyihir tentu tak akan dapat
bersembunyi dibalik topeng sains yang mereka pelintir seolah mistis. Temanku itu
membuktikan bahwa hal yang dianggap mistis oleh orang awam hanyalah alat
penipuan yang sering mencelakai orang awam yang enggan mencerna kejadian dengan
akal sehat. Contohnya anjing dan pengantin setan yang menebar teror serta
ketakutan pada beberapa orang, yang terbongkar oleh kejelian Holmes yang
mengedepankan logika daripada prasangka yang teracuni mistisisme. Namun tak
seperti dua kasusmistis itu, kisah petualangan kami yang satu ini menjelaskan
alasan mengapa Holmes tak akan mengijinkan baik aku maupun Mrs.Hudson
membereskan tumpukan dokumennya yang makin lama memenuhi kamar sewa kami karena
selain Mind Palace yang ada di kepalanya, tumpukan dokumen itu gudang informasi
bagi otaknya yang jenius itu. Ini adalah kasus pertama yang ditangani tenmanku
itu di awal abad ke 20, sebuah kasus yang menunjukkan bahwa manusia bisa
melakukan apa saja untuk menunaikan ambisinya.
Kasus ini berawal dari
kedatangan seorang pria yang hampir saja diusir oleh Mrs.Hudson karena beliau
menganggapnya kurang sopan sebagai tamu. Tentu saja beliau berprasangka buruk
pada pria itu karena Mrs.Hudson hanya melihat, bukan mengamati layaknya temanku
Holmes. Setelah sekilas mengamati pria yang memaksa masuk dengan tidak sopan
itu, Holmes segera meminta induk semang kami agar mengijinkan pria tersebut
masuk.
“Saya dirundung kesialan
sejak turun di stasiun, dan anda hendak menambah kesialan saya nyonya? Ayolah
saya hanya ingin masalah-masalah saya segera selesai! Ini terkait ketentraman
desa kami!” keluh pria frustasi yang dicegat Mrs.Hudson itu.
“Mr.Holmes, mengapa
orang-orang yang bertamu padamu selalu datang dengan masalah?” tanya induk
semang kami itu dengan raut jengkel, tentu saja kejengkelannya sebenarnya
beliau tujukan untuk tamu itu, bukan kepada penyewa kamar yang baik seperti
kami.
“Karena saya seorang
Detektif Konsultan Mrs Hudson, dan saya pastikan klien saya tak akan mengacau
disini, saya jamin itu.”
“Baiklah Mr.Holmes, saya
akan siapkan teh di dapur, semoga orang ini berkenan meminumnya dan belajar
bersikap layaknya tamu yang baik di rumah ini.” Mrs.Hudson percaya pada Holmes
begitu saja karena beliau sangat yakin bahwa temanku itu jarang salah membaca
seseorang.
“Silahkan masuk tuan” Klien
kami tersebut tak kunjung masuk meski kupersilahkan, dia malah mengambil
sobekan kertas yang disimpannya dibalik Trench Coat hitam yang dikenakannya.
Pria itu mengamati sobekan kertas itu hingga hampir-hampir kertas itu menutup
kulit wajahnya sambil berkali-kali memicingkan mata mencocokkan gambar di
kertas itu dengan wajah Holmes.
“Anda tidak salah alamat
tuan, saya benar-benar Sherlock Holmes” Pria itu mengangguk dan akhirnya dia
mengikuti kami masuk kedalam. Sungguh klien yang aneh pikirku, tadinya dia
ngotot masuk, setelah dipersilahkan masuk dia malah tak kunjung masuk. Tak
sedikit sebenarnya klien aneh yang pernah datang pada Holmes, ada pria
bertopeng hingga wanita bercadar. Namun misteri yang dibawa orang-orang aneh
itu tentunya lebih aneh lagi.
“Silahkan duduk tuan..” Aku
mempersilahkan klien tersebut sedangkan Holmes tak seperti biasanya dia
langsung membenamkan tubuhnya di kursi sambil memejamkan mata.
“Seperti itukah cara anda
menyambut klien Mr.Holmes!?” Protes pria itu dengan mata geram. Holmes hanya
tersenyum sambil bergumam “Tenang saja, saya sudah tahu sebagian dari
kemalangan anda hari ini, bahkan sebelum anda bercerita.” Pria itu terlihat
makin geram dengan omongan teman sekamarku itu.
“Omong kosong, saya kira
anda adalah detektif yang handal, ternyata anda hanyalah seorang dukun” Ujar
pria itu dengan penuh emosi.
“Dukun? Baiklah tuan yang
belum memperkenalkan diri, jika saya berpendapat bahwa anda adalah seorang pria
terhormat yang datang dari Weymouth, kota tepi laut di Dorset Country,karena
akhir-akhir ini dirundung masalah pelik ditambah kesialan kecil kehilangan kaca
mata anda saat tadi cuci muka di stasiun. Apakah anda masih mau bilang saya
dukun?”
“Tentu, aku malah tambah
yakin bahwa kau seorang dukun.” Pria itu setengah heran mendengar Holmes
membaca nasibnya hari ini.
“Ya, anda tepat sekali,
memang dukun adalah sebutan yang layak bagi saya jika saya tak bisa menjelaskan
pada anda bagaimana saya bisa tahu semua itu.” Temanku itu mulai menunjukkan
bahwa dia seorang Detektif dengan deduksi Briliantnya.
“Jelaskan pada saya
Mr.Holmes, saya ingin bukti nyata keahlianmu yang tersohor itu”Temanku Holmes
tersenyum dan mulai menatap klient tersebut dengan tatapan tajamnya.
“‘Pertama adalah bekas
kacamata di pelipis anda yang belum pudar, itu artinya anda masih berkacamata
kurang dari sejam yang lalu, dan bekas kacamata seperti itu biasa di dapat saat
orang memakai kacamata dalam waktu yang cukup lama, kemungkinan anda kelupaan
melepas kacamata anda selama perjalanan sehingga anda tidur dalam keadaan masih
mengenakan kacamata sehingga kacamata tersebut berbekas sangat jelas di pelipis
anda, dan jika mengacu pada bekas kacamata yang masih membekas jelas tersebut
maka kemungkinan besar kurang dari satu jam yang lalu anda masih berkacamata
saat baru datang di stasiun baker street. Jika mengacu pada jadwal kedatangan
kereta api yang saya baca di Koran hari ini, seharusnya hanya kereta api dari
Weymouthyang datang kurang dari satu jam yang lalu, itulah yang mendasari saya
berpendapat anda dari Weymouth.”
“Anda benar, saya memang
dari Weymouth, tapi apa yang mendasari anda berpendapat saya datang naik kereta
api dan turun di stasiun, dan bahkan kehilangan kacamata di toilet stasiun?
Bisa saja kan saya kehilangan kacamata setelah keluar dari stasiun?”
“Tentu saya tidak ngawur
berpendapat seperti itu, sekarang poin ‘kedua’ adalah tinta di sobekan kertas
koran tersebut yang agak luntur, itu tentunya karena anda mengamati kertas
tersebut dari dekat, Setelah mencuci muka di toilet anda sudah kehilangan
kacamata anda dan anda agak kesal sehingga tak mengelap sempurna wajah anda
setelah cuci muka, beberapa bagian wajah dan rambut bagian depan anda agak
basah sehingga sedikit cucuran airnya membasahi kertas koran yang anda amati
dengan jarak yang sangat dekat dengan wajah anda sehingga tinta di kertas
tersebut agak luntur, coba fikir, jika saat itu anda masih memiliki kacamata
tentunya anda tak perlu mengamati kertas koran itu dengan sangat dekat bukan?
Dan perlu anda ketahui tuan, anda tak mungkin mendapatkan koran tersebut ketika
di Weymouth, koran itu di distribusikan anak-anak jalanan baker street ke
rumah-rumah pelanggan dan di sekitar sini hanya kios koran di depan pintu
keluar masuk stasiun bawah tanah yang menjualnya pada masyarakat umum, anda
tidak mungkin membeli koran itu di kios lain yang jaraknya satu kilometer dari
sini bukan? Itulah yang mendasari pendapat saya tuan, Jika anda masih kurang
puas, maka biar saya beritahu anda bahwa kusir kereta yang anda tumpangi tadi
bernama Davy Jones, dia setiap hari mencari penumpang di depan stasiun Baker
Street, bukan di tempat lain, dan warna putih baju anda terlihat sedikit agak
kekuningan, sangat berbeda dari warna putih baju pada umumnya, hal ini terjadi
karena Weymouth dekat dengan laut, air tanahnya terkontaminasi air laut sehingga
membuat pakaian anda menjadi putih agak kekuningan, ini umum terjadi di kota
dekat pantai seperti Weymouth. apa anda masih menganggap saya dukun?”
“Maafkan saya Mr.Holmes,
bukan bermaksud meremehkan anda, jujur saja semua perkataan anda tadi benar, tentang
dukun… saya sangat jengkel dengan dukun, atau orang berlagak seperti dukun,
maaf saya tadi mengatai anda sebagai dukun.”
“Dukun kerap bertindak dan
berkata tanpa dasar logika atau menutupi logika sehingga tidak tercerna,
sedangkan Detektif seperti saya berfikir dan berkata sesuai fakta dan logika
yang dapat dicerna akal sehat. Tentu sangat berbeda dengan dukun.”
“Saya rasa ini saatnya anda
memperkenalkan diri tuan.” Kataku sambil menepuk pundak lelaki yang banyak
fikiran itu. Holmes kini memejamkan mata lagi sambil bersiap mendengarkan
masalah pria yang dikeluhkan pria itu .
“Maafkan saya yang memulai
pertemuan ini dengan perdebatan, Nama saya adalah Yohan William Jansen, saya
seorang hakim di Weymouth. Saya butuh bantuan anda Mr.Holmes, karena saya sedang
berada di posisi yang sulit.”
“Semoga permasalahan anda
benar-benar cukup sulit untuk dipecahkan Mr.Yohan.” Temanku itu entah apa yang
dipikirkannya sehingga malah senang berhadapan dengan kasus yang sulit. Tapi
itulah watak Holmes, kasus yang sulit bisa membuat hidupnya makin bergairah.
“Baiklah Mr.Holmes, sekitar
dua minggu yang lalu terjadi kasus pembunuhan di Weymouth, tepatnya di
St.Oswald’s Bay.”
“Bukankah itu tepi pantai
bertebing?” Tanyaku.
“Benar sekali Mr.Watson.
disana ada sebuah desa kecil yang dihuni sekitar 20an keluarga. Desa itu
penganut kepercayaan pagan kuno yang sangat kolot, mereka dipimpin oleh seorang
pendeta tua keturunan prancis Bernama Ulrich Mason. Pendeta itu dan istrinya
telahmenjadi korban pembunuhan dan memicu amarah warga setempat.”
“Saya sempat membaca
beritanya di Koran, bukankah tersangka sudah ditetapkan?”Tanyaku.
“Ya, dia adalah Misionaris,
itulah yang menjadi masalahnya. Ada bukti kuat yang membantah keterlibatannya,
disisi lain ada bukti di tempat kejadian yang mengarah pada mereka, jika ini
tidak segera terselesaikan saya khawatir akan terjadi konflik.”
“Biara tempat kematian
keduanya berada diatas tebing, dan hanya sebuah jalan setapak menuju biara itu,
tiada jalan lain kecuali si pembunuh bisa terbang karena tidak mungkin
seseorang melewati jalan setapak itu tanpa sepengetahuan pengawal biara yang
berjaga gerbang jalan setapak.” Klien kami terperangah saat mendengar Holmes
bisa mendeskripsikan tempat kejadiandengan tepat.
“Ba..bagaimana anda bisa
tahu detail tempat kejadian? Apa anda pernah ke sana?” Tanya klien kami. Tak
hanya dia, akupun sebenarnya heran mengapa Holmes bisa tahu.
“Dari Catatan Maycroft yang
kusimpan. Dulu Maycroft pernah membantu scotland yard menyelesaikan kasus
pembunuhan saat perayaan Mardi grasyang diadakan orang-orang keturunan
prancis disana. Itulah sebabnya aku tak membiarkan kau mengusik arsip-arsip
lawasku Mr.Watson.” Jawab Holmes sambil menghembuskan asap dari hidungnya.
“Itu berarti anda sudah tahu
betul seluk beluk kasus ini tuan Holmes?” Klien kami terlihat berbinar saat
bertanya pada Holmes.
“Saya bukan dukun Mr.Yohan,
saat berita itu dimuat di koran, saya langsung meminta salinan detail
penyelidikan pada Lestrade, dari warna merah-ungu di kulit bagian punggung
keduanya. Dari sana disimpulkan kedua korban mati sudah lebih dari 3 jam.. Tapi
meski telah membaca data dari Lestrade saya ingin mendengar dari anda, saya
ingin mencocokkan apakah ada yang berbeda hingga timbul polemik di kasus mudah
ini.”
“Baiklah tuan Holmes saya
akan jelaskan ulang, dua korban adalah Ulrich Mason dan Diane Mason, di temukan
tewas oleh anaknya dan warga sekitar pukul tujuh malam.”
“Nah.. menurut laporan dari
Lestrade yang menemukan adalah anak perempuan mereka, Joane Mason, jadi mana
yang benar? Arsip yang dikirim ke pengadilan atau salinan arsip yang dikirim
Lestrade padaku?”
“Oh.. sebenarnya kuduanya
benar Mr.Holmes. Memang yang pertama kali melihat keduanya bersimbah darah
adalah putri mereka Joane, maafkan saya yang memberikan kronologi kurang
detail. Biar saya ulang, Pada hari itu Joane sejak pagi pergi ke kota untuk
menemui seseorang dan kembali setengah tujuh malam, itu disaksikan oleh dua
penjaga gerbang yang ada di bawah bukit, Memang Joane sering dipanggil ke kota
untuk melukis karena Joane seorang pelukis yang hebat, bahkan Walikota Weymouth
kagum karena dia bisa melukis sosoknya dengan sangat detail. Dua orang penjaga
gerbang itu juga tak beralih dari sana sejak jam delapan pagi, mereka baru
berganti giliran jaga saat pukul delapan malam, warga desa saat itu sedang
melakukan persiapan Mardi Gras yang rencananya akan diselenggarakan di jalanan
depan gerbang, jadi banyak saksi bahwa dua penjaga itu tetap di pos jaganya
mulai pagi. Setengah jam setelah naik ke atas tebing Joane Turun sambil
menangis, dia melihat dari jendela depan ayah dan ibunya bersimbah darah, dia
meminta bantuan warga untuk mendobrak pintu biara yang terkunci rapat. Setelah
pintu terbuka, mereka mendapati tragedi, Diane Mason terlentang tak bernyawa
dengan luka tembak yang membuat mulutnya hancur, sedangkan Ulrich mengalami hal
yang lebih tragis, telapak tangan kanannya terbakar, setelah memadamkan api di
tangan kanan Ulrich salah satu penjaga gerbang membalik tubuh Ulrich dan
mendapati kondisinya sama dengan istrinya, mulutnya hancur karena luka
tembak!!!”
“Hmm.. Ini menarik sekali,
apakah orang di bawah bukit tidak mendengar suara tembakan?”
Mr.Yohan Menggeleng.”Biara
itu kedap suara, kami sudah menguji dengan menembakkan senjata api dari dalam dan
terbukti suaranya tiada terdengar sampai ke bawah bukit, dan ada hal yang
paling menarik perhatian adalah tulisan dari darah yang ada di dinding ruangan
tersebut”
“MARK 9:43, Tulisan itu sama
persis dengan tulisan tangan sang misionaris” Sahut Holmes, Untuk kesekian
kalinya Mr.Yohan terkejut, dia tak menyangka Holmes tahu tentang tulisan dari
darah itu.
“Anda rupanya sudah sangat
tahu detail perkara ini, mengapa anda tetap meminta saya menjelaskan hal yang
sudah anda ketahui?”
“Tentu saja, saya juga tahu
kalau ada bunga Lily yang akarnya masih basah tergeletak begitu saja di dekat
jendela kecil di sisi kanan Altar. Dan tidak ditemukan sama sekali senjata yang
digunakan untuk menembak kedua korban.”
“Anda pasti juga tahu kan
kalau hanya jendela ventilasi yang hanya dapat dilewati kucing itu satu-satunya
jalan keluar dari biara selain pintu biara, dan yang hanya dapat melaluinya
hanya seekor kucing, di bawah jendela kecil itupun hanya tebing terjal, bisa
keluar lewat sanapun si kucing akan langsung jatuh ke laut. Ayolah Mr.Holmes,
jangan terus menpermainkian saya, anda pasti sudah tahu detail perkara ini
kan?”
“Saya bahkan lebih tahu dari
anda bahwa Diane seorang janda beranak satu saat dinikahi Ulrich, dan saya juga
tahu siapa yang ditemui Joane di kota” Kata Holmes sambil menunjuk ke arah
Yohan.
“Anda sangat hebat
Mr.Holmes...”Mr.Yohan terlihat terkejut.
“Anda tidak perlu takjub
begitu, ini bukan deduksi, lestrade yang memberi tahu saya, itu yang membuat
anda dalam dilema bukan?”
“Saya yang mengajak Joane rutin
menghadiri khotbah misionaris, Joane terlihat antusias untuk meninggalkan
Paganisme tapi dia merahasiakan dari kedua orang tuanya. Beberapa hari sebelum
kejadian itu, Joane ingin mengajak ibunya untuk datang, tapi dia takut ayahnya
akan murka.Saat waktu kematian kedua korban, sang misionaris sedang berkhotbah
di depan banyak orang, jadi mana mungkin dia membunuh keduanya?”
Holmes tersenyum dan
suasanapun jadi hening.
“Saya tidak perlu
buang-buang waktu ke Weymouth untuk kasus mudah yang bisa saya selesaikan
sambil duduk di kursi malas saya...”
Bersambung ......
(Silahkan pecahkan case di atas dengan melanjutkan cerita ini di kolom komentar, pastikan Anda mengeluarkan bukti yang kuat agar tidak terjadi semacam tuduhan, jika sudah silahkan cocokan dengan FC Asli atau jawaban asli, jika jawaban Anda sekilas banyak kemiripan pada bukti maka Anda sudah benar.)
Kunci kasus tersebut
adalah kejanggalan pada Livor Mortis, dalam case LM disiratkan dengan kata
merah-ungu di bagian punggung keduanya dari sana disimpulkan kematian sudah
lebih dari 3 jam. Dari LM tersebut bisa diketahui bahwa selama lebih dari 3 jam
posisi kedua jenazah harusnya terlentang, bukan tengkurap seperti saat ditemukan
warga. Ini membuktikan bahwa posisi jenazah telah diubah dari posisi semula.
Dan satu-satunya orang yang bisa mengubah posisi jenazah keduanya adalah Joane.
Saat masuk biara, Joane menemukan kedua orang tuanya dalam keadaan meninggal,
si ayah tiri membunuh ibu kandungnya, jika dibiarkan seperti itu, maka Joane
tidak akan dapat apa-apa karena jika Ulrich membunuh Diane berarti mereka
otomatis bercerai karena pembunuhan, dan Joane tidak akan dapat sepeserpun
sebagai anak tiri yang ibunya terhitung telah bercerai dengan Ulrich. Tapi
berbeda jika seolah ada orang lain yang membunuh Ulrich dan Diane, maka Diane
dan Ulrich tetap terhitung suami isteri sampai mati, dan meski anak tiri Joane
tetap akan berhak mendapat warisan. Maka diapun menyusun rencana, dia mengubah
posisi kedua mayat jadi tengkurap agar seolah dibunuh, dan membuang pistolnya
ke laut melalui jendela, dia juga membakar tangan kanan Ulrich untuk menutupi
residu tembak yang ada di tangan kanannya, dia juga menulis pesan dari darah
dengan gaya tulisan misionaris, dia sangat mudah menirunya karena dia seorang
pelukis, dan tentu saja dia tahu dan mudah ingat detail gambar maupun tulisan,
dan mampu dengan mudah mempublikasikannya. Karena tangannya tercemar darah,
Joane mengambil Vas bunga yang tentu saja berair, dia memakai air dari vas
bunga untuk mencuci tangan, dan membuang Vas bunga itu keluar dari jendela,
saat mencuci tangan dengan air dalamVas ada bunga lily yang terjatuh di lantai
tanpa dia sadari. Setelah semua beres, Joane melanjutkan aktingnya memanggil
warga dan bermain sebagai yatim piatu yang patut diberi simpati.
