“Tiada
bencana di langit maupun di bumi yang menimpa suatu kaum kecuali telah tertulis
sebagai takdir. Jadi kuatkanlah dirimu Rakyatku!!”
Itulah kalimat penutup pidato Sultan Basyir XXX yang
disampaikan dalam acara malam doa bersama untuk keselamatan negeri Al-Tajr yang
tadi subuh diguncang gempa 6.9 SR, banyak penduduk negeri itu yang menjadi
korban, namun bagi sang sultan tiada waktu untuk meratap karena yang harus
dilakukan adalah merapat, dia menyerukan agar semua infrastruktur yang rusak
dibangun kembali dengan uang kas kerajaan. Sedangkan bagi para korban yang
selamat, sang sultan menganggarkan hartanya untuk dibagikan ke masing-masing
korban.
Bendahara negara agak kebingungan dengan maksud
sultan, apakah anggaran itu dibagi rata ataukah ada kriteria lain? Karena
Propinsi Al Wahid yang berpenduduk 150.000 orang yang meninggal 15.000 orang,
propinsi Al Sani yang berpenduduk 90.000 orang yang meninggal 10.000 orang,
propinsi Al Salas yang berpenduduk 100.000 orang yang meninggal 30.000 orang,
propinsi Al Arba’ yang berpenduduk 80.000 orang yang meninggal 20.000 orang dan
yang terakhir propinsi Al Qoms yang berpenduduk 200.000 orang yang meninggal
50.000 orang melihat sang bendahara kebingungan sang sultan memberi arahan yang
bijak.
“Ada lima propinsi di negeri kita, bagilah pada
masing-masing propinsi menurut tingkat kedukaan yang dirasakan mereka”
“Maaf,Bagaimana mengukur kadar kedukaan mereka
baginda?”
“Pake CDR”
“Tiap CDR daerah tersebut ane kasih 1juta dolar,
lalu antum tinggal bagi rata anggaran yang diterima tiap propinsi pada tiap
orang yang masih hidup”
“Siap Paduka!!” Jawab sang bendahara yang masih
dalam kebingungan, kalau bertanya lagi bisa jadi sang bendahara dikatai “Bahlul
ente”
Bermodal titah sang sultan sang bendahara
menginstruksikan mencari CDR yang bisa ditemukan di masing-masing rumah di tiap
propinsi itu.
Sepuluh menit kemudian sang sultan menelpon sang
bendahara
“Ada satu hal lagi, perintahkan pada rakyat agar
gemar bikin anak yang banyak, agar populasi kita bertambah lagi, banyak anak banyak
rezeki.”
“Siap Paduka !!” jawab sang bendahara, dalam
benaknya terbesit sebuah imajinasi.. CDR.. Bikin Banyak Anak.. JAV..? apa
paduka mulai tak waras?
(Berapakah dana hibah sultan yang diterima
masing-masing propinsi? Silahkan komentar di bawah ini tanpa melihat jawaban
asli)
CDR yang dimaksud sultan adalah Crude Death Rate dengan
rumus=(Jumlah kematian penduduk/jumlahpenduduk)x1000(konstanta) Jadi begini
perhitungannya :
Beberapa hari yang lalu saya
bertemu dengan Dedik, teman SMA saya di salah satu warung kopi di dekat toko Boekoe Kwitang
dia rupanya telah sukses merintis bisnis wedding organizer yang berbeda dari
yang lain. Bisnis yang digelutinya membantu pasangan yang ingin pesta
pernikahan tapi tiada dana, dengan modal 50 juta dia mulai mengembangkan
usahanya yang langsung untung seusai pesta pernikahan. Model bisnisnya sangat
cerdik, kedua mempelai tidak dibebani biaya sepeserpun, tapi sebagai gantinya
semua hadiah dari para undangan digunakan untuk mengganti biaya pernikahan dan
sisanya diambil sebagai laba perusahaan wedding Organizer yang dijalankannya.
Ada sebuah pengalaman unik yang dia sampaikan saat itu, yaitu saat melayani
klien yang pelit, tapi kepelitannya berlandaskan kebenaran. Dia mengambil
contoh undangan yang disebar klien tersebut. Sebuah undangan simpel seluas
kartu ATM dijepret dengan satu sachet kopi bubuk.
📷MUBAZIR ITU DOSA
Tentunya agak kelihatan
aneh, karena tidak umum, tapi setelah dipikir-pikir ada benarnya juga, dengan
hemat kertas selain hemat biaya juga hemat kertas, kertas dari pohon, hemat
kertas berarti menjaga lingkungan, dengan diberi sebungkus kopi undangan itu
jauh lebih bermanfaat karena tamu yang diundang bisa bikin kopi setelah membaca
undangan, itu lebih baik daripada setelah membaca undangan lalu undangannya
dibuang.
Satu hal lagi yang aku pelajari darinya adalah ketika membuat sebuah
pesta, minimal jumlah porsi konsumsi harus 3 kali dari jumlah undangan, aku
sempat heran mengapa bisa begitu? lalu Dedik menjelaskan bahwa saat pesta yang
datang bukan para jomblo atau duda, ada pasangan suami istri beserta anaknya,
ada jomblo atau duda yang sewa pacar agar gak malu datang sendirian, ada juga
yang datang bersama saudara serumah karena gak masak, jadi porsi makanan harus
dilebihkan jika tak mau malu karena tamu undangan kelaparan.
Dia tak sendirian
saat bertemu denganku, sebenarnya dia datang bersama seorang temannya yang
katanya butuh bantuanku, Dedik rupanya sudah tahu kalau aku terkenal sebagai
Detektif Cinta, memang mengungkap masalah perselingkuhan tak sehebat cerita
komik atau novel detektif meski kadang-kadang harus bertaruh nyawa saat
mengintai target, namun jasa yang kusediakan terbukti membantu banyak orang
untuk membongkar cinta palsu yang memenjara mereka. Tepat pukul satu siang teman
Dedik akhirnya datang, setelah bersalaman denganku dia langsung pamit ke toilet
“Sudah Kebelet” katanya.
Dari momen perkenalan itu aku langsung berkata pada
Dedik.“Ded, tarifku mahal lho. biaya sadap telephon seminggu saja bisa habisin
gajinya sebulan”
“Kau ini kok hina dia sih Ren? ”“Saat bersalaman dengannya
tangannya terasa mengapal tepat di bawah ruas jari kelingking, jari manis, jari
tengah, dan diantara jempol dan telunjuk, itu disebabkan karena tangannya
sering menggenggam benda seperti gagang troli barang, selain itu otot-otot
tangan kanannya lebih terlihat pada tangan kanan dibanding tangan kiri, jadi
menurutku pekerjaannya adalah seorang pengantar barang berat yang harus diangkut
dengan troly barang, dan biasanya pekerjaan seperti itu digaji UMK, sedangkan
tarif investigasiku sejuta sehari, dari mana dia dapat duit?”
“Aku yang bakal
bayarin, aku utang nyawa sama dia, makanya aku pengen bantuin dia.”Sesaat
kemudian teman Dedik yang bernama Dodo mulai bercerita bahwa dia diputusin oleh
pacarnya tanpa alasan yang jelas, padahal selama ini pacarnya yang bernama
Maudy itu sangat baik dan santun bagai bidadari, bahkan Maudy meminta Dodo
datang ke rumahnya untuk mengenal ayah ibu maudy.
“Oh.. jadi dia baik hati...
dan anda hanya butuh alasan jelas?” tanyaku
“Ya.. jika karena saya kurang
tampan, saya bisa oprasi plastik, tapi saya gak mau diputusin sepihak kayak
gini, tolong saya detektif Reno, Jika saya tahu alasannya memutuskan saya mungkin
saya bisa bunuh diri dengan tenang.”
“Sabar, bisa saya tahu bagaimana dia
memutuskan anda?” Lelaki botak hitam itu lalu menunjukkan percakapan WA ketika
momen Maudy memutuskannya.
“Hm.. anda diputuskan saat
bekerja di kantor?”Kataku.
“Tidak, saya selalu berusaha tampil tampan saat
bertemu dengannya baik online maupun offline, bahkan ketika bertemu dengan
orang tuanya saya tampil sesempurna yang saya bisa”
“Saya dapat memecahkan
masalah ini dengan mudah, anda hanya perlu mentraktir saya dengan semangkok Mie
Rebus.”
“Mie Rebus? anda minta Pizza sekalipun akan saya belikan kalau bisa
menolong saya”
“Cukup Mie Rebus, karena seperti halnya Mie Rebus yang ruwet
keriting, Masalah ini hanya bisa dinikmati dengan di Rebus.”Dua orang di depan
saya terbingungkan dengan kalimat saya, dan saya memang sangat gemar
membingungkan orang sebelum memberi pencerahan.
(Ayo apakah Anda sudah menemukan jawaban yang tepat atas permasalahan yang di alami Dodo? silahkan komentar dibawah ini lalu cocokan dengan Jawaban Asli)
Dodo diputusin karena miskin, namun karena maudy tak
mau menyakiti hati dodo maka dia membuat plesetan kata merindukan ratu
(merindukan=miss)+(ratu=queen)=MISS QUEEN terdengar sepertiMISKIN
Aku sempat berfikir bahwa
temanku Holmes mungkin akan jadi penyebab banyak penyihir dihukum mati jika dia
hidup di abad kegelapan eropa karena para penyihir tentu tak akan dapat
bersembunyi dibalik topeng sains yang mereka pelintir seolah mistis. Temanku itu
membuktikan bahwa hal yang dianggap mistis oleh orang awam hanyalah alat
penipuan yang sering mencelakai orang awam yang enggan mencerna kejadian dengan
akal sehat. Contohnya anjing dan pengantin setan yang menebar teror serta
ketakutan pada beberapa orang, yang terbongkar oleh kejelian Holmes yang
mengedepankan logika daripada prasangka yang teracuni mistisisme. Namun tak
seperti dua kasusmistis itu, kisah petualangan kami yang satu ini menjelaskan
alasan mengapa Holmes tak akan mengijinkan baik aku maupun Mrs.Hudson
membereskan tumpukan dokumennya yang makin lama memenuhi kamar sewa kami karena
selain Mind Palace yang ada di kepalanya, tumpukan dokumen itu gudang informasi
bagi otaknya yang jenius itu. Ini adalah kasus pertama yang ditangani tenmanku
itu di awal abad ke 20, sebuah kasus yang menunjukkan bahwa manusia bisa
melakukan apa saja untuk menunaikan ambisinya.
Kasus ini berawal dari
kedatangan seorang pria yang hampir saja diusir oleh Mrs.Hudson karena beliau
menganggapnya kurang sopan sebagai tamu. Tentu saja beliau berprasangka buruk
pada pria itu karena Mrs.Hudson hanya melihat, bukan mengamati layaknya temanku
Holmes. Setelah sekilas mengamati pria yang memaksa masuk dengan tidak sopan
itu, Holmes segera meminta induk semang kami agar mengijinkan pria tersebut
masuk.
“Saya dirundung kesialan
sejak turun di stasiun, dan anda hendak menambah kesialan saya nyonya? Ayolah
saya hanya ingin masalah-masalah saya segera selesai! Ini terkait ketentraman
desa kami!” keluh pria frustasi yang dicegat Mrs.Hudson itu.
“Mr.Holmes, mengapa
orang-orang yang bertamu padamu selalu datang dengan masalah?” tanya induk
semang kami itu dengan raut jengkel, tentu saja kejengkelannya sebenarnya
beliau tujukan untuk tamu itu, bukan kepada penyewa kamar yang baik seperti
kami.
“Karena saya seorang
Detektif Konsultan Mrs Hudson, dan saya pastikan klien saya tak akan mengacau
disini, saya jamin itu.”
“Baiklah Mr.Holmes, saya
akan siapkan teh di dapur, semoga orang ini berkenan meminumnya dan belajar
bersikap layaknya tamu yang baik di rumah ini.” Mrs.Hudson percaya pada Holmes
begitu saja karena beliau sangat yakin bahwa temanku itu jarang salah membaca
seseorang.
“Silahkan masuk tuan” Klien
kami tersebut tak kunjung masuk meski kupersilahkan, dia malah mengambil
sobekan kertas yang disimpannya dibalik Trench Coat hitam yang dikenakannya.
Pria itu mengamati sobekan kertas itu hingga hampir-hampir kertas itu menutup
kulit wajahnya sambil berkali-kali memicingkan mata mencocokkan gambar di
kertas itu dengan wajah Holmes.
“Anda tidak salah alamat
tuan, saya benar-benar Sherlock Holmes” Pria itu mengangguk dan akhirnya dia
mengikuti kami masuk kedalam. Sungguh klien yang aneh pikirku, tadinya dia
ngotot masuk, setelah dipersilahkan masuk dia malah tak kunjung masuk. Tak
sedikit sebenarnya klien aneh yang pernah datang pada Holmes, ada pria
bertopeng hingga wanita bercadar. Namun misteri yang dibawa orang-orang aneh
itu tentunya lebih aneh lagi.
“Silahkan duduk tuan..” Aku
mempersilahkan klien tersebut sedangkan Holmes tak seperti biasanya dia
langsung membenamkan tubuhnya di kursi sambil memejamkan mata.
“Seperti itukah cara anda
menyambut klien Mr.Holmes!?” Protes pria itu dengan mata geram. Holmes hanya
tersenyum sambil bergumam “Tenang saja, saya sudah tahu sebagian dari
kemalangan anda hari ini, bahkan sebelum anda bercerita.” Pria itu terlihat
makin geram dengan omongan teman sekamarku itu.
“Omong kosong, saya kira
anda adalah detektif yang handal, ternyata anda hanyalah seorang dukun” Ujar
pria itu dengan penuh emosi.
“Dukun? Baiklah tuan yang
belum memperkenalkan diri, jika saya berpendapat bahwa anda adalah seorang pria
terhormat yang datang dari Weymouth, kota tepi laut di Dorset Country,karena
akhir-akhir ini dirundung masalah pelik ditambah kesialan kecil kehilangan kaca
mata anda saat tadi cuci muka di stasiun. Apakah anda masih mau bilang saya
dukun?”
“Tentu, aku malah tambah
yakin bahwa kau seorang dukun.” Pria itu setengah heran mendengar Holmes
membaca nasibnya hari ini.
“Ya, anda tepat sekali,
memang dukun adalah sebutan yang layak bagi saya jika saya tak bisa menjelaskan
pada anda bagaimana saya bisa tahu semua itu.” Temanku itu mulai menunjukkan
bahwa dia seorang Detektif dengan deduksi Briliantnya.
“Jelaskan pada saya
Mr.Holmes, saya ingin bukti nyata keahlianmu yang tersohor itu”Temanku Holmes
tersenyum dan mulai menatap klient tersebut dengan tatapan tajamnya.
“‘Pertama adalah bekas
kacamata di pelipis anda yang belum pudar, itu artinya anda masih berkacamata
kurang dari sejam yang lalu, dan bekas kacamata seperti itu biasa di dapat saat
orang memakai kacamata dalam waktu yang cukup lama, kemungkinan anda kelupaan
melepas kacamata anda selama perjalanan sehingga anda tidur dalam keadaan masih
mengenakan kacamata sehingga kacamata tersebut berbekas sangat jelas di pelipis
anda, dan jika mengacu pada bekas kacamata yang masih membekas jelas tersebut
maka kemungkinan besar kurang dari satu jam yang lalu anda masih berkacamata
saat baru datang di stasiun baker street. Jika mengacu pada jadwal kedatangan
kereta api yang saya baca di Koran hari ini, seharusnya hanya kereta api dari
Weymouthyang datang kurang dari satu jam yang lalu, itulah yang mendasari saya
berpendapat anda dari Weymouth.”
“Anda benar, saya memang
dari Weymouth, tapi apa yang mendasari anda berpendapat saya datang naik kereta
api dan turun di stasiun, dan bahkan kehilangan kacamata di toilet stasiun?
Bisa saja kan saya kehilangan kacamata setelah keluar dari stasiun?”
“Tentu saya tidak ngawur
berpendapat seperti itu, sekarang poin ‘kedua’ adalah tinta di sobekan kertas
koran tersebut yang agak luntur, itu tentunya karena anda mengamati kertas
tersebut dari dekat, Setelah mencuci muka di toilet anda sudah kehilangan
kacamata anda dan anda agak kesal sehingga tak mengelap sempurna wajah anda
setelah cuci muka, beberapa bagian wajah dan rambut bagian depan anda agak
basah sehingga sedikit cucuran airnya membasahi kertas koran yang anda amati
dengan jarak yang sangat dekat dengan wajah anda sehingga tinta di kertas
tersebut agak luntur, coba fikir, jika saat itu anda masih memiliki kacamata
tentunya anda tak perlu mengamati kertas koran itu dengan sangat dekat bukan?
Dan perlu anda ketahui tuan, anda tak mungkin mendapatkan koran tersebut ketika
di Weymouth, koran itu di distribusikan anak-anak jalanan baker street ke
rumah-rumah pelanggan dan di sekitar sini hanya kios koran di depan pintu
keluar masuk stasiun bawah tanah yang menjualnya pada masyarakat umum, anda
tidak mungkin membeli koran itu di kios lain yang jaraknya satu kilometer dari
sini bukan? Itulah yang mendasari pendapat saya tuan, Jika anda masih kurang
puas, maka biar saya beritahu anda bahwa kusir kereta yang anda tumpangi tadi
bernama Davy Jones, dia setiap hari mencari penumpang di depan stasiun Baker
Street, bukan di tempat lain, dan warna putih baju anda terlihat sedikit agak
kekuningan, sangat berbeda dari warna putih baju pada umumnya, hal ini terjadi
karena Weymouth dekat dengan laut, air tanahnya terkontaminasi air laut sehingga
membuat pakaian anda menjadi putih agak kekuningan, ini umum terjadi di kota
dekat pantai seperti Weymouth. apa anda masih menganggap saya dukun?”
“Maafkan saya Mr.Holmes,
bukan bermaksud meremehkan anda, jujur saja semua perkataan anda tadi benar, tentang
dukun… saya sangat jengkel dengan dukun, atau orang berlagak seperti dukun,
maaf saya tadi mengatai anda sebagai dukun.”
“Dukun kerap bertindak dan
berkata tanpa dasar logika atau menutupi logika sehingga tidak tercerna,
sedangkan Detektif seperti saya berfikir dan berkata sesuai fakta dan logika
yang dapat dicerna akal sehat. Tentu sangat berbeda dengan dukun.”
“Saya rasa ini saatnya anda
memperkenalkan diri tuan.” Kataku sambil menepuk pundak lelaki yang banyak
fikiran itu. Holmes kini memejamkan mata lagi sambil bersiap mendengarkan
masalah pria yang dikeluhkan pria itu .
“Maafkan saya yang memulai
pertemuan ini dengan perdebatan, Nama saya adalah Yohan William Jansen, saya
seorang hakim di Weymouth. Saya butuh bantuan anda Mr.Holmes, karena saya sedang
berada di posisi yang sulit.”
“Semoga permasalahan anda
benar-benar cukup sulit untuk dipecahkan Mr.Yohan.” Temanku itu entah apa yang
dipikirkannya sehingga malah senang berhadapan dengan kasus yang sulit. Tapi
itulah watak Holmes, kasus yang sulit bisa membuat hidupnya makin bergairah.
“Baiklah Mr.Holmes, sekitar
dua minggu yang lalu terjadi kasus pembunuhan di Weymouth, tepatnya di
St.Oswald’s Bay.”
“Bukankah itu tepi pantai
bertebing?” Tanyaku.
“Benar sekali Mr.Watson.
disana ada sebuah desa kecil yang dihuni sekitar 20an keluarga. Desa itu
penganut kepercayaan pagan kuno yang sangat kolot, mereka dipimpin oleh seorang
pendeta tua keturunan prancis Bernama Ulrich Mason. Pendeta itu dan istrinya
telahmenjadi korban pembunuhan dan memicu amarah warga setempat.”
“Saya sempat membaca
beritanya di Koran, bukankah tersangka sudah ditetapkan?”Tanyaku.
“Ya, dia adalah Misionaris,
itulah yang menjadi masalahnya. Ada bukti kuat yang membantah keterlibatannya,
disisi lain ada bukti di tempat kejadian yang mengarah pada mereka, jika ini
tidak segera terselesaikan saya khawatir akan terjadi konflik.”
“Biara tempat kematian
keduanya berada diatas tebing, dan hanya sebuah jalan setapak menuju biara itu,
tiada jalan lain kecuali si pembunuh bisa terbang karena tidak mungkin
seseorang melewati jalan setapak itu tanpa sepengetahuan pengawal biara yang
berjaga gerbang jalan setapak.” Klien kami terperangah saat mendengar Holmes
bisa mendeskripsikan tempat kejadiandengan tepat.
“Ba..bagaimana anda bisa
tahu detail tempat kejadian? Apa anda pernah ke sana?” Tanya klien kami. Tak
hanya dia, akupun sebenarnya heran mengapa Holmes bisa tahu.
“Dari Catatan Maycroft yang
kusimpan. Dulu Maycroft pernah membantu scotland yard menyelesaikan kasus
pembunuhan saat perayaan Mardi grasyang diadakan orang-orang keturunan
prancis disana. Itulah sebabnya aku tak membiarkan kau mengusik arsip-arsip
lawasku Mr.Watson.” Jawab Holmes sambil menghembuskan asap dari hidungnya.
“Itu berarti anda sudah tahu
betul seluk beluk kasus ini tuan Holmes?” Klien kami terlihat berbinar saat
bertanya pada Holmes.
“Saya bukan dukun Mr.Yohan,
saat berita itu dimuat di koran, saya langsung meminta salinan detail
penyelidikan pada Lestrade, dari warna merah-ungu di kulit bagian punggung
keduanya. Dari sana disimpulkan kedua korban mati sudah lebih dari 3 jam.. Tapi
meski telah membaca data dari Lestrade saya ingin mendengar dari anda, saya
ingin mencocokkan apakah ada yang berbeda hingga timbul polemik di kasus mudah
ini.”
“Baiklah tuan Holmes saya
akan jelaskan ulang, dua korban adalah Ulrich Mason dan Diane Mason, di temukan
tewas oleh anaknya dan warga sekitar pukul tujuh malam.”
“Nah.. menurut laporan dari
Lestrade yang menemukan adalah anak perempuan mereka, Joane Mason, jadi mana
yang benar? Arsip yang dikirim ke pengadilan atau salinan arsip yang dikirim
Lestrade padaku?”
“Oh.. sebenarnya kuduanya
benar Mr.Holmes. Memang yang pertama kali melihat keduanya bersimbah darah
adalah putri mereka Joane, maafkan saya yang memberikan kronologi kurang
detail. Biar saya ulang, Pada hari itu Joane sejak pagi pergi ke kota untuk
menemui seseorang dan kembali setengah tujuh malam, itu disaksikan oleh dua
penjaga gerbang yang ada di bawah bukit, Memang Joane sering dipanggil ke kota
untuk melukis karena Joane seorang pelukis yang hebat, bahkan Walikota Weymouth
kagum karena dia bisa melukis sosoknya dengan sangat detail. Dua orang penjaga
gerbang itu juga tak beralih dari sana sejak jam delapan pagi, mereka baru
berganti giliran jaga saat pukul delapan malam, warga desa saat itu sedang
melakukan persiapan Mardi Gras yang rencananya akan diselenggarakan di jalanan
depan gerbang, jadi banyak saksi bahwa dua penjaga itu tetap di pos jaganya
mulai pagi. Setengah jam setelah naik ke atas tebing Joane Turun sambil
menangis, dia melihat dari jendela depan ayah dan ibunya bersimbah darah, dia
meminta bantuan warga untuk mendobrak pintu biara yang terkunci rapat. Setelah
pintu terbuka, mereka mendapati tragedi, Diane Mason terlentang tak bernyawa
dengan luka tembak yang membuat mulutnya hancur, sedangkan Ulrich mengalami hal
yang lebih tragis, telapak tangan kanannya terbakar, setelah memadamkan api di
tangan kanan Ulrich salah satu penjaga gerbang membalik tubuh Ulrich dan
mendapati kondisinya sama dengan istrinya, mulutnya hancur karena luka
tembak!!!”
“Hmm.. Ini menarik sekali,
apakah orang di bawah bukit tidak mendengar suara tembakan?”
Mr.Yohan Menggeleng.”Biara
itu kedap suara, kami sudah menguji dengan menembakkan senjata api dari dalam dan
terbukti suaranya tiada terdengar sampai ke bawah bukit, dan ada hal yang
paling menarik perhatian adalah tulisan dari darah yang ada di dinding ruangan
tersebut”
“MARK 9:43, Tulisan itu sama
persis dengan tulisan tangan sang misionaris” Sahut Holmes, Untuk kesekian
kalinya Mr.Yohan terkejut, dia tak menyangka Holmes tahu tentang tulisan dari
darah itu.
“Anda rupanya sudah sangat
tahu detail perkara ini, mengapa anda tetap meminta saya menjelaskan hal yang
sudah anda ketahui?”
“Tentu saja, saya juga tahu
kalau ada bunga Lily yang akarnya masih basah tergeletak begitu saja di dekat
jendela kecil di sisi kanan Altar. Dan tidak ditemukan sama sekali senjata yang
digunakan untuk menembak kedua korban.”
“Anda pasti juga tahu kan
kalau hanya jendela ventilasi yang hanya dapat dilewati kucing itu satu-satunya
jalan keluar dari biara selain pintu biara, dan yang hanya dapat melaluinya
hanya seekor kucing, di bawah jendela kecil itupun hanya tebing terjal, bisa
keluar lewat sanapun si kucing akan langsung jatuh ke laut. Ayolah Mr.Holmes,
jangan terus menpermainkian saya, anda pasti sudah tahu detail perkara ini
kan?”
“Saya bahkan lebih tahu dari
anda bahwa Diane seorang janda beranak satu saat dinikahi Ulrich, dan saya juga
tahu siapa yang ditemui Joane di kota” Kata Holmes sambil menunjuk ke arah
Yohan.
“Anda sangat hebat
Mr.Holmes...”Mr.Yohan terlihat terkejut.
“Anda tidak perlu takjub
begitu, ini bukan deduksi, lestrade yang memberi tahu saya, itu yang membuat
anda dalam dilema bukan?”
“Saya yang mengajak Joane rutin
menghadiri khotbah misionaris, Joane terlihat antusias untuk meninggalkan
Paganisme tapi dia merahasiakan dari kedua orang tuanya. Beberapa hari sebelum
kejadian itu, Joane ingin mengajak ibunya untuk datang, tapi dia takut ayahnya
akan murka.Saat waktu kematian kedua korban, sang misionaris sedang berkhotbah
di depan banyak orang, jadi mana mungkin dia membunuh keduanya?”
Holmes tersenyum dan
suasanapun jadi hening.
“Saya tidak perlu
buang-buang waktu ke Weymouth untuk kasus mudah yang bisa saya selesaikan
sambil duduk di kursi malas saya...”
Bersambung ......
(Silahkan pecahkan case di atas dengan melanjutkan cerita ini di kolom komentar, pastikan Anda mengeluarkan bukti yang kuat agar tidak terjadi semacam tuduhan, jika sudah silahkan cocokan dengan FC Asli atau jawaban asli, jika jawaban Anda sekilas banyak kemiripan pada bukti maka Anda sudah benar.)
Kunci kasus tersebut
adalah kejanggalan pada Livor Mortis, dalam case LM disiratkan dengan kata
merah-ungu di bagian punggung keduanya dari sana disimpulkan kematian sudah
lebih dari 3 jam. Dari LM tersebut bisa diketahui bahwa selama lebih dari 3 jam
posisi kedua jenazah harusnya terlentang, bukan tengkurap seperti saat ditemukan
warga. Ini membuktikan bahwa posisi jenazah telah diubah dari posisi semula.
Dan satu-satunya orang yang bisa mengubah posisi jenazah keduanya adalah Joane.
Saat masuk biara, Joane menemukan kedua orang tuanya dalam keadaan meninggal,
si ayah tiri membunuh ibu kandungnya, jika dibiarkan seperti itu, maka Joane
tidak akan dapat apa-apa karena jika Ulrich membunuh Diane berarti mereka
otomatis bercerai karena pembunuhan, dan Joane tidak akan dapat sepeserpun
sebagai anak tiri yang ibunya terhitung telah bercerai dengan Ulrich. Tapi
berbeda jika seolah ada orang lain yang membunuh Ulrich dan Diane, maka Diane
dan Ulrich tetap terhitung suami isteri sampai mati, dan meski anak tiri Joane
tetap akan berhak mendapat warisan. Maka diapun menyusun rencana, dia mengubah
posisi kedua mayat jadi tengkurap agar seolah dibunuh, dan membuang pistolnya
ke laut melalui jendela, dia juga membakar tangan kanan Ulrich untuk menutupi
residu tembak yang ada di tangan kanannya, dia juga menulis pesan dari darah
dengan gaya tulisan misionaris, dia sangat mudah menirunya karena dia seorang
pelukis, dan tentu saja dia tahu dan mudah ingat detail gambar maupun tulisan,
dan mampu dengan mudah mempublikasikannya. Karena tangannya tercemar darah,
Joane mengambil Vas bunga yang tentu saja berair, dia memakai air dari vas
bunga untuk mencuci tangan, dan membuang Vas bunga itu keluar dari jendela,
saat mencuci tangan dengan air dalamVas ada bunga lily yang terjatuh di lantai
tanpa dia sadari. Setelah semua beres, Joane melanjutkan aktingnya memanggil
warga dan bermain sebagai yatim piatu yang patut diberi simpati.
Sebenarnya tujuan saya pergi ke Kampung Ilmu adalah mencari
buku-buku kiri untuk referensi cerpen “Sedjarah Merah” yang akan saya ikutkan
di Antologi cerpen Detective.ID tapi karena tak menemukan buku kiri yang bagus
saya akhirnya membeli buku karya Robert Fulghum yang berjudul" All I
Really to know i learned in kindergarten dan buku karya Masaru Emoto yang
berjudul “The Miracle Of Water”. Saya memang seringkali tak fokus mencari apa yang
seharusnya saya cari, dan saya agak menyesal karena terbujuk hawa nafsu dengan
membeli buku itu.
Saya duduk sejenak sambil menyedot es tebu di tepi jalan dan
mencoba membuang jauh-jauh rasa menyesal karena salah beli. Saat bersantai saya
memperhatikan pohon Bintaro yang tertanam sepanjang trotoar, saya berfikir
betapa kejinya pemerintah kolonial belanda yang menanami sepanjang jalan
semarang dengan pohon yang buahnya beracun, bagaimana jika ada anak yang tak
tahu apa-apa tentang buah bintaro dan memakan buah yang jatuh dari pohon itu?
Bukankah itu sangat berbahaya? Harusnya pemerintah mengganti Pohon Bintaro
dengan tanaman yang buahnya bisa bermanfaat dan tidak berbahaya.
Setelah duduk dan minum es tebu sambil berfikir kritis, saya
lanjut mencari buku di salah satu kios, disana ada buku-buku tua yang bahkan
lebih tua dari buku-buku terbitan balai pustaka. Mata saya langsung jatuh cinta
pada sebuah buku tua tanpa sampul, jadi buku itu telanjang bulat dan langsung
menampakkan halaman judulnya. “Dua Penerus” judul yang sangat membuat penasaran
sehingga saya langsung membelinya seharga lima ribu rupiah saja.
Sesampainya di rumah, saya malah membaca buku tua yang
penulisnya tak jelas siapa daripada dua buku lain yang jelas karya penulis
ternama. Butuh sekitar satu jam saja untuk membaca buku setebal 50halaman itu,
ceritanya sangat menarik.
Begini inti ceritanya :
Ada seorang Pemimpin padepokan bernama Boporomo Subasuki yang
mempunyai dua orang anak, yang satu bernama Suro Subasuki dan yang satunya
bernama Indro Subasuki. Keduanya sangat pandai dan bisa dibilang mewarisi ilmu
dari sang ayah dengan sepadan. Boporomo Subasuki memberikan tugas pada kedua
anaknya, masing-masing dua penerusnya itu ditugasi menebang dua pohon keramat
di tempat yang berbeda, Indro Subasuki mendapat tugas menebang pohon di puncak
bukit, sedangkan Suro Subasuki mendapat tugas menebang pohon di dekat pantai.
Sebenarnya bukan pekerjaan sulit untuk menebang pohon, yang menyebabkan hal
mudah tersebut jadi sulit adalah warga sekitar yang mengkramatkan pohon-pohon
itu. Boporomo juga mengirim seorang telik sandi untuk mengawasi kedua putranya
itu.
Telik sandi pertama melaporkan Suro, awalnya Suro mendapat
penolakan dari warga karena Warga menyakini bahwa takdir mereka berkebun
pisang, bukan sebagai nelayan, mereka menganggap pohon keramat telah membuat
kebun mereka jadi subur jadi mereka menolak menebang pohon keramat, Suro tidak
menyerah, dia memberi contoh dengan tindakan, dia menjadi nelayan dan mencoba
sukses, dia juga membuat bahan makanan unik dan enak dari udang meski baunya
agak menyengat, bahan makanan dari udang itu terkenal hingga daerah lain dan
membuat Suro kaya, tapi itu tidak membuat masyarakat tertarik mengikuti
jejaknya, hingga pada suatu hari pohon-pohon di kebun masyarakat banyak yang mati,
juga pohon keramat yang mereka keramatkan, saat itulah Suro mengambil
kesempatan untuk membujuk warga meninggalkan penyembahan pohon keramat.
Boporomo penasaran bagaimana perkebunan warga dan pohon keramat bisa mati?
Teliksandi itu menjawab karena kalah dengan bahan makanan buatan Suro.
Telik sandi kedua melaporkan Indro, sejak awal kedatangannya
warga menyambut baik dan menerima ajakan Indro namun mereka takut ketika diajak
menebang pohon keramat, karena menurut legenda barang siapa hendak menebang
pohon keramat atau menggoresnya sedikit saja maka bencana akan datang, setelah
beberapa lama merenung Indro menemukan sebuah cara, dia mengajak beberapa
pemuda desa untuk memanjat pohon keramat dan mereka seperti bencengkramah
diatas pohon, sang telik sandi tak tahu apayang mereka bicarakan diatas pohon
karena dia mengawasi dari jauh, setelah setiap hari selama dua bulan mereka
melakukan itu pohon keramat perlahan mengering, daunnya berguguran dan mati,
Wargapun dengan mudah menumbangkan pohon keramat itu.
Boporomo tersenyum dan dengan mantap memilih Indro sebagai
penerus.
(Coba Jelaskan bagaimana cara Suro dan Indro kok bisa membuat
pohon keramat tumbang? Dan mengapa Boporomo memilih Indro? tulis jawaban kalian di kolom komentar dan jika sudah cocokan dengan jawaban Asli)
Pohon pisang warga beserta pohon keramat yang mereka
puja tumbang karena air tanah disana tercemar oleh limbah hasil bisnis yang
digeluti suro. Sedangkan Indro menumbangkan pohon keramat dengan cara mencaci
maki pohon secara terus menerus, cara yang dilakukan Indro ini adalah metode
nyata di kepulauan solomo dan pernah ada pembahasannya di buku karya Robert Fulghum yang berjudul"
All I Really to know i learned in kindergarten”. Penjelasan ilmiahnya sendiri
ada pada penelitian Masaru Emoto tentang The Miracle Of Water. Karena di dalam
batang pohon ada air yang menjadi sumber kehidupan pohon, jika kualitas air itu
buruk atau rusak karena cacian maka tumbanglah pohon tersebut. Boporomo tidak
memilih Suro karena metodenya mencemari lingkungan, sedangkan Indro dipilih
karena selain hanya menebang pohon keramat, dia juga mengajarkan bahayanya
perkataan buruk.
Saya memeiliki seorang paman yang bernama Roberto, meski beliau memiliki darah belanda, beliau tetap memegang identitasnya sebagai putra seorang wanita jawa. Paman Roberto adalah seorang penulis novel Thriller Detektif yang terkenal dengan nama “Pak Berto” jika kalian tahu novel “Bait-Bait Sandi Pasar Demit” pasti kalian tahu bagaimana Pak Berto sangat lihai memainkan misteri lewat imajinasinya. Suatu hari saya iseng ingin membuka laptop paman Roberto dan membaca tulisannya yang belum terpublikasi, tapi firasatku terbukti benar, Laptopnya di password, saya tak bisa login tanpa pasword, lalu saya coba minta Hint siapa tahu ada dan benar ada Hint untuk pasword laptop itu berupa sebuah puisi :
“I've Been Reading Books Of Detectives Poe And His Dupin Doyle And His Sherlock Agatha And Her Poirot Ranpo And His Akechi And You Don't See Him Upon That List. Who Is Him?”
Saya jadi bingung dan mencoba merangkai dengan memadukannya dengan wallpaper login Screen yang hanya berupa latar putih dengan beberapa baris aksara jawa (Gambar Di Atas) Kira-kira apa ya passwordnya? ada yang bisa bantu?
(Bantu saya menemukan password laptop pak Berto dengan komentar dibawah ini)
JAWABAN CHALENGE 6
Kunci dari kode itu bisa di dapat dengan cara menerjemahkan angka yang ditulis dalam tulisan jawa ke dalam arabic number sehingga di dapati 14 16 31 38 47 51 52 53 58 79 93 95 105 106 118 . angka angka tersebut adalah urutan huruf pada puisi yang bila diambil sesuai urutan menjadi “Gosho And His Kudo” itulah password laptop pak berto
Ada beberapa misteri di tempat kerja saya, misalnya ada suara
orang berlari naik turun tangga tapi tak ada orang, ada yang mendengar namanya
dipanggil seseorang dari lantai bawah padahal di bawah tak ada orang sama
sekali, dan yang paling bikin merinding pernah ada kejadian sebuah ruangan
tempat penyimpanan barang tidak dapat dibuka padahal tidak dalam keadaan
terkunci, setelah di dobrak ternyata pintu ruangan itu terganjal barang-barang
yang entah bagaimana seolah ditata menahan pintu
dari dalam, padahal tak ada akses masuk keluar selain satu pintu yang terganjal
barang-barang itu, Meskipun misteri-misteri itu menggoda untuk dipecahkan,tentu
bukan hal-hal itu yg akan jadi pertanyaan kali ini karena bisa jadi terlalu
ghoib untuk nalar kita, jadi kali ini saya coba menguji pengamatan para peserta
sekalian untuk memecahkan misteri lain di tempat kerja saya, ada sebuah titik
lokasi di parkiran tempat kerja saya dimana sering terjadi sepeda motor yang
terparkir tiba-tiba terkunci setir, padahal di parkiran dilarang keras mengunci
setir karena bisa mengganggu yg lain saat keluarin atau masukin motor. Pernah
ada sampai tiga kali motor yg berbeda tiba terkunci setir saat diparkir di spot
yang sama, sampai pemiliknya dipanggil ke parkiran untuk pindahin motornya,
padahal si pemilik gak merasa mengunci setir motornya dan memang benar saat
pemilik datang motor memang tidak di kunci setir(Gambar : 46 diatas adalah Foto
nyata kejadian sesuai dengan TKP asli) Tidak hanya sampai disitu saja, beberapa
hari yang lalu di tempat yang sama juga terjadi hal yang aneh, ceritanya saat
saya hendak pulang saya ingin mengabadikan momen saat motor saya tinggal
satu-satunya di tempat parkir itu,(Gambar 47 adalah gambar yang saya ambil
waktu itu) eh malah kelihatan sebuah hal yang aneh, padahal mesin motor dalam
keadaan mati dan kunci masih di tangan saya kok lampu belakang kelihatan
menyala? Karena merinding saya langsung pulang dan menelpon pacar saya untuk
menanyakan apakah dia sudah makan atau belom.
(Coba jelaskan secara logis bagaimana
keanehan pada mistery spot diatas dengan komentar dibawah ini)
Sebenarnya motor tersebut memang tidak dikunci
setir, tapi motor tersebut seolah dikunci setir karena ban depan motor
terbentur tumpukan kardus di depannya (lihat gambar) hal ini terjadi karena
kebanyakan orang memeriksa kendaraan dikunci setir atau tidak dengan menggoyang
stang motor, karena terbentur kardus jadi stang motor seolah terkunci padahal
tidak. Lalu tentang lampu belakang yang seolah menyala dalam gelap sebenarnya
bukanlah lampu melainkan reflektor peka cahaya yang biasanya juga terdapat pada
sepedabiasa. Jika dilihat bagian itu memang tak terhubung dengankelistrikan
motor, reflektor itu seolah menyala karena saat memfoto saya menggunakan Flash
sehingga seolah bercahaya karena reflektor itu memantulkan cahayadari flash kamera saya.